KATA PENGANTAR
Segala puji dan
syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini tepat waktu.Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar yang diberikan oleh Drs. Boedi Astowo,M. si
Dengan judul “ADAT ISTIADAT REPRODUKSI”
Saya
menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah yang saya susun. Maka dari
itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai
pihak demi terciptanya kesempurnaan dalam makalah ini.Semoga dengan
disusunnya makalah ini dapat memberikan manfaat terutama dalam menambah
pengetahuan dan pemahaman terhadap materi Ilmu Sosial Budaya Dasar khususnya
bagi saya. Semoga makalah ini berguna bagi kita semua terutama mahasiswa
kebidanan.
Kediri,
01 November 2012
Nur tatik
BAB
I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Bangsa
Indonesia mempunyai perjalanan sejarah yang panjang dan sudah tua, sehingga
mempunyai berbagai bentuk kebudayaaan dan adat istiadat asli. Sebagian dari
kebudayaan dan adat istiadat itu berkaitan dengan masalah reproduksi yang dapat
dijabarkan secara modern, yang meliputi beberapa masalah reproduksi yang
tersurat dan tersirat dan masih dilaksanakan masyarakat yang semakin modern
ini.
Indonesia mempunyai banyak suku
bangsa dengan adat istiadat dan kebiasaan yang bervariasi. Semua bentuk variasi
adat dan budaya tersebut bertujuan untuk mencari dan menegakkan keselamatan
keluarga, lingkungan, dan bahkan bangsa Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
KEBUDAYAAN
ASLI INDONESIA
Indonesia merupakan negara yang
sudah tua, terletak di persimpangan jalan laut dan diantara dua benua.Indonesia
mempunyai kebudayaan dan adat asli yang patut dibanggakan.Diantara kebudayaan
asli Indonesia adalah wayang, gambaran, kemampuan membatik, konsep “catur
sanak” empat saudara embrio Berikut uraian singkat hubungan kebudayaan dengan
reproduksi modern.
1. Kebudayaan Wayang
Wayang
yang kita miliki hanya empat buah,satu pasang ditempatkan dan dimainkan oleh
tangan kanan dan sebaliknya disebelah kiri dimainkan oleh tangan kiri.Keberadaan
wayang ini mencerminkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai kebiasaan bertutur dan
senang bercerita. Contoh wayang dari Jawa adalah tokoh semar-gareng, dan
petruk-bagong.Wayang dari Bali contohnya Melem berpasangan dengan Sangut,
Twalen berpasangan dengan Merdah.Dengan perkembangan agama Hindu ke Nusantara,
ikut bersama penyebaran itu adalah cerita besar yaitu Ramayana dan Mahabarata.Dua
pasang wayang asli Indonesia masih tetap dipertahankan dan sebagai pengantar
cerita itu.
Berkaitan
dengan masalah reproduksi,wayang mendapat tempat untuk melakukan “ruwatan”. Ruwatn
adalah pementasan wayang khusus untuk menembus pembawaan lahir ,sehingga mendapat
keselamatan,yang biasa di lakukan di jawa dan bali. Keadaan kekeluargaan yang
perlu di lakukan “ruwatan” adalah ontang-anting (anak laki-laki tunggal), untang-unting
(anak perempuam tunggal),uger-uger lawang (dua anak laki-laki), kembang
sepasang (dua anak perempuan), sedang kampit pancuran (tiga anak perempuan di
tenggah), serimpi (empat anak perempuan semua).Penebusan noda kelahiran dengan“ruwatan”merupakan
keyakinan masyarakat, sehinnga harus di laksanakan untuk keselamatan kelanjutan
keluarga dan hidup yang lebih sejahtera.
2. Gamelan
Kita
harus bangga bahwa ternyata gamelan yang sangat kompleks itu adalah hasil
kreasi budaya bangsa Indonesia yang asli.Perkembangan gamelan, di seluruh
Nusantara sangat bervariasi, bergantung pada kebutuhan masyarakatnya.sebagian
sudah tidak diperlukan lagi dalam tatanan kehidupan,sebagian masih tapi
jumlahnya sedikit berkurang.
Di
Jawa dan Bali gamelan masih cukup lengkap,karena masih di butuhkan dalam
berbagai bentuk pelaksanaan dan pertunjukan.dalam kaitan dengan aspek
reproduksi ,gamelan di gunakan pada upacara “ruwatan” dengan pementasan wayang.
Disamping itu pementasan berbagai kreasi budaya tarian banyak menggunakan
gamelan untuk mengiringinya,sebagai manifestasi syukuran atas keberhasilan.
Misalnya,menikah, mempunyai keturunan , atau upacaya selamatan anak dalam ruang lingkup reproduksi.
Gamelan
asli Indonesia tetap berkembang Karena didukung oleh pendidikan tingginya,
misalnya Institute Seni Indonesia (ISI) DI Jakarta,Bali dan Jogjakarta. Di bali
di kembangkan Sekolah Menenggah Karawitanindonesia (SMKI) sebagi sarana
pendidikan resmi.
3. Kemampuan membatik
Keindahan kasat mata dari batik
dapat dinikmati dari pada bentuk, komposisi ornamen dan warna yang dihasilkan
serta dari kecermatan, ketelitian dan penjiwaan dalam proses pembuatannya.Secara
makna keindahan batik dapat dilihat dari cerminan kearifan budaya pada masanya.Sebagai
salah satu produk warisan budaya, penelusuran tentang sejarah, makna dari batik
baik yang secara lisan dituturkan turun temurun maupun secara tertulis sangat
menarik untuk dilakukan, dipelajari dan dilestarikan.
Dalam
rangka memberikan pengetahuan tentang batik bagi masyarakat umum sebagai bagian
dari upaya pelestarian batik, pada 12 juni-17 juni 2010 lalu paguyupan pecinta
batik ‘Sekar jagad’ menyelenggarakan pameran batik beretajuk “Batik Riwayatmu
Doeloe, Kini dan Esok” di Taman Budaya Yogyakarta.
Dalam
pameran tersebut selain dipajang berbagai motif batik,juga disajikan
batik-batik yang digunakan dalam rangkaian daur kehidupan manusia.Kemampuan
membatik khususnya batik tulis, merupakan budaya bangsa Indonesia asli,
terutama di Solo, Yogya, Pekalongan dan sekitarnya. Batik yang dikaitkan dengan
masalah reproduksi adalah saat dilakukan perkawinan ,saat melakukan
“pitonan”,dan sebagai pembungkus bayi baru lahir , kitanan ,bahkan di gunakan
pda saat kematian.
·
Batik dalam Upacara Mitoni
Disaat
usia kehamilan pertama seorang ibu sudah berusia tujuh bulan, diadakan upacara
mitoni dengan harapan agar sang bayi nantinya lahir dengan selamat, lancar dan
dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang baik, berbudi luhur dan bertakwa
kepada Tuhan YME, bermanfaat bagi sesama dan alam lingkungannya. batik
yang digunakan dalam acara mitoni antara lain batik sidomukti, sida asih, sida
luhur, sida mulya, sida dadi, babon angrem/babon ngubluk, wakyu tumurun, naga
sari, grompol dan semen rama.
·
Batik untuk acara mitoni
Kopohan
berasal dari kata kopoh yang berarti basah kuyub.Batik dalam kopohan digunakan
sebagak alas saat bayi lahir dari rahim ibunya Dikemudian hari, bila anak sakit
atau rewel, kain tersebut digunakan untuk menggendong dengan harapan agar sehat
kembali. motof kain kopohan antara lain kawung, parang, truntum dan cakar.
Sedangkan untuk menggendong placenta yang sudah diletakkan dalam kendhil
sebelum dikubur atau dilarung menggunakan batik motif parang rusak (lingkungan
keraton), sida mukti, semen rama, sida luhur, dan wahyu tumurun. Batik
untuk emban-emban atau menggendong bayi antara lain bermotif kawung, truntum,
parang, semen sawat manah, sisik buntal, panji puro atau slimun.
·
Untuk acara tetesan, taraban dan
Khitan
Tetesan
(khitan untuk anak perempuan) dan khitan menggunakan batik bermotif kecil dan
melambangkan kesegaran dan harapan menjadi orang yang berkepribadian baik,
bahagia antara lain parang pamor dan parangkusumo. Untuk upacara taraban(pertama
kali mendapatkan haid) setelah gadis melakukan siraman, mengenakan batik motif
parang cantel atau parang kusuma.
·
Perkawinan
Acara
perkawinan dimulai dengana cara melamar yang dilakukan oleh keluarga laki-laki
mengenakan motif parang, lambang ketajaman rasa dan pikir. semen latar putih
lambang kebaikan dan batik bermotif ceplok.Setelah lamaran diterima dilakukan
peningsetan sebagai tanda ikatan suami istri digunakan batik motif satriya
manah untuk laki-laki dan semen rante untuk perempuan.
Sehari
sebelum pernikahan diadakan upacara siraman dan malamnya midodareni.Pada saat
siraman digunakan batik motif wahyu tumurun, cakar , grompol. Sedangkan pada
midodareni digunakan batik dengan motif semen rama, satria wibawa, truntum, wahyu
tumurun.Pada acara akad nikah dan panggih dikenakan batik dengan motif sida
mulya, sidamukti, sida luhur, sida asih, bouket.
·
Batik dalam kematian.
Ketika seorang jawa meninggal, sebelum dimakamkan, jenazah
dilurupi/ditutup menggunakan batik kesayangan almarhum atau motif kawung
(simbol balik ke alam suwung=kembali ke alam kesunyian) atau slobog ( dari kata
lobok atau longgar) dengan harapan orang yang meninggal mempunyai kelapangan
dan tidak menemui halangan ketika menghadap Sang Khalik.
Setelah
mempelajari sedikit tentang batik dalam kehidupan manusia,rasanya tak heran
bila batik menjadi warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. tetepi seiring
perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, saat ini disamping batik tulis yang
memang dibuat dengan tangan (hand made) berkembang pula batik cap dan batik
printing. Menurut Guide yang saya temui selama pameran batik mengatakan batik
yang diakui oleh Unesco adalah batik Tulis dan Batik Cap, apabila dikemudian
hari batik tulis tidak dilestarikan dan digantikan dengan tekstil potif batik
yang dibuat melalui printing, maka bukan tidak mungkin pengukuhan UNESCO akan
dicabut.Untuk itu dituntut kejelian pemakai batik, jangan sembarang memakai
batik, tetapi usahakan menggunakan batik tulis atau minimal menggunakan batik
cap. untuk membedakannya, batik tulis mempunyai goresan halus, bila dilihat
mempunyai kedalaman makna dan kadang dibuat tidak bolak balik, sedangkan batik
printing, meskipun sulit dibedakan, tetapi goresannya kaku dan gambarnya tidak
mempunyai kedalaman makna.
Ketika pitonan/mitoni, di lakukan
upacara busana , sampai “tujuh kali” hingga ibu di nyatakan pantas dan cocok
mengenakannya. Sebagi simbul melakukan upacara syukuran bahwa kehamilannya
sudah mencapai umur tujuh bulan dengan motif khusus . Kehamilan tujuh bulan ,
dengan perhitungn bulan berumur 35 hari,
menurut obstreti modern sudah mencapi 35 minggu , sedang bila umur 36 minggu, bayi sudah di anggap aterm.Secara
tradisional, kehamilan tujuh bulan sudah melampaui kritis, sehingga bila sudah
lahir sudah dapat hidup di luar kandugan. Ini adalah makna batik yang dikaitkan
dengan aspek reproduksi khusus bagi
keluarga baru untuk menyongsong kelahiran anak itu.
B.
FILOSOFI
TRADISIONAL
Sekalipun tatanan
pelaksanaan filosofis di Indonesia sanget berfariasi, mulai dari proses
meminang, perkawinan, sampai perawatan masa kelahirannya. Semua aktifitas
tersebut mempuanyai tujuan yang sama
agar semua proses tersebut berjalan dengan lancar, mencapai keselamatan
peerkawinan tetap langgeng, banyak rezeki, dan panjang umur sampai panjang usia
tetap rukun.
Bila diperhatikan
proses perkawinan di setiap daerah sifatnya sacral dan di sesuaikan dengan
adat-istiadat yang berlaku di daerahnya. Bila di simak secara keseluruhan dalam
proses perkawinan saja bangsa Indonesia mempunyai begitu banyak variasi yang
merupakan kekayaan budaya yang perlu di pertahankan. Kita patut merasa
bersyukur karena pendahulu dan pendirii
NKRI menemukan jati dirinya dalam bentuk BHINEKA TUNGGAL IKA ,yang berarti
kesatuan dalam keanekaragaman.
a)
Perkawinan
Proses
perkawinan adalah sakral yang tujuannya memcapai kelanggengan dalam menempuh
hidup selanjutnya sampai lanjut usia. Hubungan cinta kasih wanita dengan pria, setelah melalui
proses dan pertimbangan , biasanya dimantapkan dalam sebuah tali perkawinan,
hubungan dan hidup bersama secara resmi selaku suami istri dari segi
hukum, agama dan adat.
Di Jawa seperti juga ditempat
lain, pada prinsipnya perkawinan terjadi karena keputusan dua insan yang
saling jatuh cinta.Itu merupakan hal yang prinsip. Meski ada juga perkawinan
yang terjadi karena dijodohkan orang tua yang terjadi dimasa lalu.Sementara
orang-orang tua zaman dulu berkilah melalui pepatah : Witing tresno jalaran
soko kulino, artinya : Cinta tumbuh karena terbiasa.
a.1) Perkawinan adat jawa
Di Jawa dimana kehidupan
kekeluargaan masih kuat, sebuah perkawinan tentu akan mempertemukan dua buah
keluarga besar. Oleh karena itu, sesuai kebiasaan yang berlaku, kedua insan
yang berkasihan akan memberitahu keluarga masing-masing bahwa mereka telah
menemukan pasangan yang cocok dan ideal untuk di jadikan suami atau istri.
Secara tradisional,pertimbangan penerimaan
seorang calon menantu berdasarkan kepada bibit, bebet dan bobot.
Bibit : artinya mempunyai latar kehidupan
keluarga yang baik.
Bebet : calon penganten, terutama pria, mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bebet : calon penganten, terutama pria, mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bobot : kedua calon penganten adalah orang yang
berkwalitas, bermental baik dan berpendidikan
cukup.
Biasanya setelah kedua belah pihak orang tua atau keluarga
menyetujui perkawinan, maka dilakukan langkah-langkah selanjutnya, menurut
kebiasaan adalah sebagai berikut :
a.1.1) Pinangan
Biasanya yang melamar adalah pihak calon penganten pria.Pada
masa lalu, orang tua calon penganten pria mengutus salah seorang anggota keluarganya
untuk meminang.Tetapi kini, untuk praktisnya orang tua pihak lelaki bisa
langsung meminang kepada orang tua pihak wanita . Bila sudah diterima, langsung
akan dibicarakan langkah-langkah selanjutnya sampai terjadinya upacara
perkawinan.
Hal-hal yang perlu dibicarakan antara lain meliputi : tanggal
dan hari pelaksanaan perkawinan, ditentukan kapan pernikahannya, jam berapa,
biasanya dicari hari baik.Kalau hari pernikahan sudah ditentukan, upacara lain
yang terkait seperti : peningsetan, siraman, midodareni, panggih
, resepsi dll, tinggal disesuaikan.
Tidak kurang penting adalah pemilihan seorang pemaes,
juru rias penganten tradisional.Dalam upacara perkawinan tradisional,
peran seorang perias temanten sangat besar, karena dia beserta
asisten-asistennya akan membimbing, paling tidak memberitahu seluruh
pelaksanaan upacara, lengkap dengan sesaji yang diperlukan.Seorang pemaes
yang kondang, mumpuni dan ahli dalam bidangnya ,biasanya juga punya
jadwal yang ketat, karena laris, diminta merias dibanyak tempat, terlebih
dibulan-bulan baik menurut perhitungan kalender Jawa. Oleh karena itu, perias temanten
harus dipesan jauh hari.
Perlu diprioritaskan pula pemilihan tempat untuk pelaksanaan
upacara perkawinan itu.Misalnya dimana tempat akad nikah, temu manten
dan resepsinya. Apakah akan dilaksanakan dirumah, disebuah gedung pertemuan
atau dihotel.
Dalam pelaksanaan perkawinan adat Jawa, pihak calon
penganten wanita secara resmi adalah yang punya gawe,pihak pria membantu. Bagaimana
pelaksanaan upacara perkawinan , apakah sederhana, sedang-sedang saja atau
pesta besar yang mengundang banyak tamu dan lengkap dengan hiburan,
secara realitas itu tentu tergantung kepada anggaran yang tersedia. Pada saat
ini kedua pihak sudah lebih terbuka membicarakan budget tersebut
a.1.2)
Kesibukan dirumah calon penganten putrid
Yang
lebih sibuk memang pihak orang tua calon penganten wanita. Hal-hal yang mesti
dilakukan adalah :
§ Mengundang keluarga terdekat untuk
membicarakan dan menyiapkan seluruh proses perkawinan. Secara tradisi dibentuk
sebuah panitya yang terdiri dari anggota keluarga dan kenalan dekat dan
masing-masing mempunyai tugas yang jelas. Hal yang penting pula adalah
penunjukkan pihak yang bertanggung jawab tentang konsumsi, Catering mana
yang akan ditunjuk. Penunjukkan catering
berdasarkan pengalaman penting sekali, harus yang baik dan bertanggung jawab
dan servisnya memuaskan. Pada masa kini, dengan pertimbangan praktis,ada
keluarga yang punya hajat, menunjuk seluruh pelaksanaan upacara diserahkan
kepada Event Organizer yang profesional. Mungkin penunjukan Event
Organizer dimaksud supaya tidak merepotkan keluarga yang lain, ada baiknya.
Tetapi perlu diingat bahwa upacara perkawinan tradisional itu adalah juga
sebuah acara untuk keluarga, menyangkut segi sosial, dimana para tamu
selain hadir untuk memberi selamat kepada kedua temanten , juga untuk
mempererat persaudaraan dan persahabatan antara pihak pengundang dan yang
diundang.Pada banyak kejadian,sebuah upacara perkawinan tradisional yang
dikendalikan sepenuhnya oleh Event Organizer terasa kaku , meski mereka
melaksanakan benar sesuai prosedur langkah-langkah yang dilaksanakan. Yang hilang
dari upacara itu adalah “roh” dari upacara ritual tersebut. Oleh karena itu,
beberapa pelestari budaya Jawa yang mau mengerti “segi kepraktisan zaman
“ berpendapat sebaiknya untuk pelaksanaan hal-hal inti, meski ada Event
Organizer, tetap harus ada anggota keluarga yang terlibat.
Bagaimanapun , keluarga yang punya gawe harus membentuk panitya kecil praktis
yang mampu mengarahkan dan membantu dan kalau perlu meluruskan kerja para
personil Event Organizer tersebut.
§ Pemasangan Bleketepe dan Tarub.
Sehari sebelum upacara perkawinan, rumah orang tua mempelai wanita
dipasangi tarub dan bleketepe dipintu masuk halaman depan. Dibuat gapura yang
dihiasi tarub yang terdiri dari berbagai tuwuhan, yaitu tanaman dan dedaunan
yang punya arti simbolis. Dikiri kanan gapura dipasang pohon pisang yang
sedang berbuah pisang yang telah matang. Artinya
: Suami akan menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan bermasyarakat. Seperti
pohon pisang yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungan,
keluarga baru ini juga akan hidup bahagia, sejahtera dan rukun dengan
lingkungan sekitarnya. Sepasang tebu wulung, pohon tebu yang berwarna
kemerahan, merupakan simbol mantapnya kalbu, pasangan baru ini akan
membina dengan sepenuh hati keluarga mereka. Cengkir gading- kelapa
kecil berwarna kuning, melambangkan kencangnya-kuatnya pikiran baik, sehingga
pasangan ini dengan sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan bersama yang saling
mencinta. Berbagai macam dedaunan segar seperti : beringin, mojokoro,alang-alang,dadap
srep, merupakan harapan supaya pasangan ini hidup dan tumbuh dalam
keluarga yang selalu selamat dan sejahtera.
§ Anyaman daun kelapa yang dinamakan bekletepe
digantungkan digapura depan rumah, ini dimaksudkan untuk mengusir segala
gangguan dan roh jahat dan sekaligus menjadi pertanda bahwa dirumah ini sedang
dilakukan upacara perkawinan.
a.1.3) Sesaji khusus diadakan
sebelum pemasangan tarub&bekletepe
yang terdiri dari: nasi
tumpeng, berbagai macam buah-buahan termasuk pisang dan kelapa, berbagai macam
lauk pauk,kue-kue, minuman, bunga, jamu, tempe, daging kerbau, gula kelapa dan
sebuah lentera.
Sesaji
ini melambangkan permohonan supaya mendapatkan berkah dari Tuhan, Gusti dan
restu dari para leluhur dan sekaligus sebagai sarana untuk menolak goda
mahluk-mahluk halus jahat.
Sesaji
ditempatkan dibeberapa tempat dimana prosesi upacara perkawinan
dilaksanakan seperti didapur, kamar mandi, pintu depan, dibawah tarub,
dijalan dekat rumah dll.
a.1.4) Upacara-upacara sebelum
pernikahan
·
Siraman
Siraman dari asal kata siram ,artinya
mandi. Sehari sebelum pernikahan, kedua calon penganten disucikan dengan cara
dimandikan yang disebut Upacara Siraman. Calon penganten putri dimandikan
dirumah orang tuanya, demikian juga calon mempelai pria juga dimandikan dirumah
orang tuanya. Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk Siraman :
1.
Persiapan
tempat untuk siraman, apakah dilakukan dikamar mandi atau dihalaman rumah belakang atau samping.
2.
Daftar
orang-orang yang akan ikut memandikan. Sesuai tradisi selain kedua orang
tua temanten, eyang temanten , beberapa pinisepuh .
Yang diundang untuk ikut memandikan adalah mereka yang sudah sepuh,
sebaiknya sudah punya cucu dan punya reputasi kehidupan yang baik.
3.
Sejumlah
barang yang diperlukan seperti : tempat air, gayung, kursi, kembang
setaman, kain, handuk, kendi dsb.
4.
Sesaji
untuk siraman, ada lebih dari sepuluh macam, diantaranya adalah seekor ayam
jago.
5.
Pihak
keluarga penganten putri mengirimkankan sebaskom air kepada pihak keluarga
penganten pria. Air itu disebut air suci perwitosari artinya sari
kehidupan, yaitu air yang dicampur dengan beberapa macam bunga,yang ditaruh
dalam wadah yang bagus , untuk dicampurkan dengan air yang untuk
memandikan penganten
pria.
6.
Pihak
terakhir yang memandikan penganten adalah pemaes, yang menyirami calon
penganten dangan air dari sebuah kendi. Ketika kendi telah kosong, pemaes
atau seorang pinisepuh yang ditunjuk, membanting kendi dilantai sambil
berkata : Wis pecah pamore artinya calon penganten yang cantik atau
gagah sekarang sudah siap untuk
kawin.
7.
Upacara
siraman selesai dan calon penganten dengan memakai kain batik
motif grompol dan ditutupi tubuhnya dengan kain batik motif nagasari,
dituntun kembali keruang pelaminan.Calon temanten putri akan dikerik
oleh pemaes.
·
Upacara Ngerik
Ngerik
artinya rambut-rambut kecil diwajah calon pengantin wanita dengan hati-hati
dikerik oleh pemaes.Rambut penganten putri dikeringkan kemudian
diasapi dengan ratus/dupa wangi. Perias mulai merias calon penganten . Wajahnya
dirias dan rambutnya digelung sesuai dengan pola upacara perkawinan
yang telah ditentukan.
Sesudah selesai, penganten didandani dengan kebaya yang bagus yang telah disiapkan dan kain batik motif sidomukti dan sidoasih, melambangkan dia akan hidup makmur dan dihormati oleh sesama.
Sesudah selesai, penganten didandani dengan kebaya yang bagus yang telah disiapkan dan kain batik motif sidomukti dan sidoasih, melambangkan dia akan hidup makmur dan dihormati oleh sesama.
Malam itu, ayah dan ibu calon mempelai putri memberikan suapan terakhir kepada putrinya, karena mulai besok, dia sudah berada dibawah tanggung jawab suaminya. Sesaji untuk ngerik sama dengan sesaji siraman. Jadi untuk praktisnya, seluruh sesaji siraman dibawa masuk kekamar pelaminan dan menjadi sesaji untuk ngerik.
·
Upacara
Midodareni
Pada upacara midodareni
yang berlangsung dimalam hari sebelum Ijab dan Temu Manten/Panggih
di keesokkan harinya, kedua orang tua calon mempelai pria beserta calon
mempelai pria, diantar oleh keluarga dekatnya, berkunjung kerumah orang tua
calon mempelai putri. Calon mempelai putri setelah dirias dikamar pelaminan,
nampak cantik sekali bagai widodari, bidadari, dewi dari kahyangan.
Sesuai kepercayaan kuno, malam itu
mempelai putri ditemani oleh beberapa dewi cantik dari kahyangan. Malam itu dia
harus tinggal dikamar dan tidak boleh tidur dari jam 6/enam sore sampai tengah
malam.Beberapa ibu sepuh menemani dan memberikan nasihat-nasihat berharga.
Keluarga calon mempelai pria yang
wanita, yang datang dimalam midodareni, boleh menengok calon mempelai
wanita yang sudah didandani cantik, siap untuk nikah esok harinya.
Sesuai adat, dikamar pelaminan ada
sesaji khusus untuk upacara midodareni, ada sebelas macam makanan dan
barang; selain itu ada tujuh macam barang yang lain .
·
Upacara diluar kamar pelaminan
Dimalam
midodareni, orang tua dan keluarga calon penganten putri, menerima
kunjungan dari orang tua dan keluarga dari calon penganten pria. Mereka duduk
didalam rumah, saling berkenalan dan bersantap bersama. Calon penganten pria
juga datang, tetapi dia tidak boleh masuk rumah dan hanya boleh duduk diserambi
depan rumah. Diapun hanya disuguhi segelas air minum, tidak boleh makan atau
minum yang lain.Ini konon untuk melatih kesabaran seorang suami dan kepala
keluarga,
·
Srah-srahan atau Peningsetan
Dalam
upacara midodareni, bisa dilakukan srah-srahan atau peningsetan.(
Pada zaman dulu, peningsetan dilakukan sebelum malam midodareni).
Orang tua dan keluarga calon penganten pria memberikan beberapa barang kepada
orang tua calon penganten wanita.
Peningsetan
dari kata singset, artinya mengikat erat, dalam hal ini terjadinya
komitmen akan sebuah perkawinan antara putra putri kedua pihak dan
para orang tua penganten akan menjadi besan.
Pemberian
itu berupa : Satu set suruh ayu sebagai perlambang harapan
tulus supaya mendapatkan keselamatan. Seperangkat pakaian untuk penganten
wanita , termasuk beberapa kain batik dengan motif yang melambangkan
kebahagiaan hidup. Tidak boleh ketinggalan sebuah stagen, ikat
pinggang kain putih yang besar dan panjang, sebagai pertanda
kuatnya tekad. Beberapa hasil bumi antara lain beras, gula, garam, minyak
goreng, buah-buahan dlsb sebagai pralambang hidup kecukupan dan sejahtera bagi
keluarga baru.
Sepasang
cincin kawin untuk kedua mempelai. Pada kesempatan ini, pihak calon mempelai
pria menyerahkan sejumlah uang, sebagai sumbangan untuk pelaksanaan upacara
perkawinan.Ini hanya formalitas belaka, karena urunan uang sudah diberikan jauh
hari sebelumnya.
Sesudah
bersantap bersama dan saling berkenalan, seluruh keluarga rombongan orang
tua temanten pria berpamitan untuk pulang. Mereka perlu
mempersiapkan diri untuk besok yaitu pelaksanaan upacara perkawinan yang
penting termasuk pernikahan secara agama, Upacara adat temu manten
dsb.
Catatan
: Menurut adat perkawinan Surakarta, sewaktu rombongan tamu berpamitan pulang,
pihak tuan rumah memberikan angsul-angsulan , berupa
buah-buahan, kue-kue dan seperangkat pakaian temanten pria yang akan
dipakai besok. Pada adat perkawinan gaya Yogyakarta, tidak ada angsul-angsulan.
·
Nyantri
Sewaktu
rombongan keluarga temanten pria pulang dari upacara midodareni,
calon penganten pria juga ikut diajak pulang.Tetapi, bila calon mempelai pria nyantri,
maka dia ditinggal dirumah calon mertuanya.Tentu nyantri sebelumnya
sudah dibicarakan dan disetujui kedua pihak. Begini tata caranya : Orang tua
calon mempelai pria melalui jurubicara keluarga mengatakan kepada orang
tua calon mempelai wanita, bahwa calon mempelai pria tidak diajak pulang dan
menyerahkan tanggung jawab kepada orang tua calon mempelai putri.
Setelah
keluarganya pulang, ditengah malam dia dipersilahkan masuk rumah untuk makan,
tidak boleh ketemu calon istrinya dan sesudah itu diantar kekamar
tidur untuk beristirahat. Nyantri dilaksanakan untuk segi
praktisnya, mengingat besok pagi dia sudah harus didandani untuk pelaksanaan
ijab kabul/pernikahan. Juga untuk keamanan pernikahan, kedua calon mempelai
sudah berada disatu tempat
·
Pelaksanaan
Ijab
Ijab adalah hal paling penting untuk
melegalisir sebuah perkawinan. Ijab atau perkawinan dilaksanakan sesuai
dengan agama yang dianut kedua penganten, bisa Islam, Kristen, Katolik, Hindu,
Budha, Konghucu.
Kini, warga Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, perkawinannya juga diakui sah oleh negara sesuai dengan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan
dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 Tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.
Persiapan untuk pernikahan/ Ijab, harus benar-benar cermat, supaya lancar dan aman.
Persiapan untuk pernikahan/ Ijab, harus benar-benar cermat, supaya lancar dan aman.
Sesudah Ijab selesai, artinya temanten
sudah sah sebagai suami istri. Tentu hati rasanya “plong”, orang tua dan
keluarga kedua pihak juga lega.
·
Upacara
Panggih atau Temu Penganten.
Secara tradisional Upacara Panggih
atau Temu Penganten dilaksanakan dirumah orang tua penganten putri. Pada
saat yang telah ditentukan, penganten pria diantar oleh
saudara-saudaranya kecuali kedua orang tuanya yang tidak boleh hadir
dalam upacara ini, tiba didepan rumah pengantin putri dan berhenti didepan
pintu rumah. Sementara itu, pengantin wanita dengan dikawal
saudara-saudaranya dan diikuti kedua orang tuanya, menyongsong kedatangan
rombongan pengantin pria dan berhenti dipintu rumah depan. Didepan pengantin
wanita, dua gadis kecil yang disebut patah membawa kipas. Dua anak
laki-laki muda atau dua orang ibu, masing-masing membawa sebuah rangkaian bunga
khusus yang namanya kembar mayang.Seorang ibu pengiring pengantin pria
maju dan memberikan Sanggan kepada ibu pengantin putri sebagai tanda
penghormatan untuk penyelenggaraan upacara perkawinan. Sanggan itu
berupa buah pisang yang dibungkus rapi dengan daun pisang dan ditaruh diatas
nampan.
Pada waktu upacara panggih, kembar
mayang dibawa keluar rumah dan dibuang diperempatan jalan dekat rumah atau
didekat berlangsungnya upacara perkawinan, maksudnya supaya upacara
berjalan selamat dan tidak ada gangguan apapun dan dari pihak manapun.
·
Balangan suruh
Kedua
penganten bertemu dan berhadapan langsung pada jarak sekitar dua atau tiga
meter, keduanya berhenti dan dengan sigap saling melempar ikatan daun sirih
yang diisi dengan kapur sirih dan diikat dengan benang. Ini yang disebut ritual
balangan suruh.
Kedua
penganten dengan sungguh-sungguh saling melempar sambil tersenyum,
diiringi kegembiraan semua pihak yang menyaksikan. Menurut kepercayaan
kuno, daun sirih punya daya untuk mengusir roh jahat. Sehingga dengan
saling melempar daun sirih, kedua pengantin adalah benar-benar pengantin
sejati, bukan Ritual Wiji Dadi Penganten pria menginjak sebuah
telur ayam kampung hingga pecah dengan telapak kaki kanannya, kemudian
kaki tersebut dibasuh oleh penganten putri dengan air kembang.
Pralambang nya : rumah tangga yang dipimpin seorang suami yang bertanggung jawab dengan istri yang baik, tentu menghasilkan hal yang baik pula termasuk anak keturunan.
Ritual memecah telur ini ada versi
lain dari Yogyakarta, pelaksanaannya sebagai berikut : Pengantin pria dan wanita
berdiri berhadapan tepat. Telapak kaki kanan mempelai pria dibasuh dengan
air kembang oleh mempelai putri dengan sikap jongkok. Perias temanten
sebagai pembimbing upacara, memegang telur ayam kampung itu ditangan
kanannya.Ujung telur tersebut oleh perias ditempelkan pada dahi pengantin
pria dan kemudian pada dahi pengantin wanita.Kemudian telur itu dipecah oleh
perias diatas tumpukan bunga yang berada diantara kedua pengantin Ini
penggambaran kedua pengantin sudah mantap dalam satu pikiran, sadar saling
kasih membina rumah tangga yang bahagia sejahtera dan menghasilkan
anak keturunan yang baik-baik
·
Ritual Kacar Kucur atau Tampa Kaya.
Sepasang
pengantin dengan bergandengan dengan jari kecilnya berjalan menuju
depan krobongan, tempat dimana upacara tampa kaya diadakan.Upacara kacar
kucur ini menggambarkan : suami memberikan seluruh penghasilannya kepada
istri. Dalam ritual ini suami memberikan kepada istri : kacang, kedelai, beras,
jagung, nasi kuning, dlingo bengle, beberapa macam bunga dan uang
logam dengan jumlah genap.Istri menerima dengan segenap hati dengan selembar
kain putih yang ditaruh diatas selembar tikar tua yang diletakkan diatas
pangkuannya. Artinya istri akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan
berhati-hati.
Catatan
: Pada masa dulu, ritual tampa kaya , dhahar kembul dll, memang
dilakukan didepan krobongan yang ada disenthong tengah (
Ruang tengah rumah kuno yang biasa dipakai untuk melakukan sesaji). Pada masa
kini, ritual tersebut tetap diadakan meskipun upacara perkawinan diadakan
digedung pertemuan atau hotel. Dekorasi dibelakang kursi temanten
adalah ukiran kayu yang berbentuk krobongan. Ini untuk mengikuti
perkembangan zaman dan sekaligus tetap melestarikan tradisi.
·
Ritual
Dhahar Klimah atau Dhahar Kembul
Dengan
disaksikan orang tua pengantin putri dan kerabat dekat, sepasang pengantin
makan bersama, saling menyuapi. Mempelai pria membuat tiga kepal nasi kuning dengan
lauknya berupa telor goreng,tempe, kedelai, abon, ati ayam. Lalu ia menyuapkan
kepada istrinya, sesudah itu ganti sang istri menyuapi suaminya, diakhiri
dengan minum teh manis bersama. Ini melambangkan bahwa mulai saat ini keduanya
akan mempergunakan dan menikmati bersama apa yang mereka punyai.
·
Mertui atau Mapag Besan
Kedua orang tua pengantin putri
menjemput kedua orang tua pengantin pria didepan rumah ( untuk perkawinan
digedung menjemputnya didepan ruangan tempat berlangsungnya acara ritual) dan mempersilahkan
mereka masuk rumah/ ruangan tempat upacara, selanjutnya mereka berjalan bersama
menuju ketempat upacara. Ibu-ibu berjalan didepan, bapak-bapak mengiringi dari
belakang. Kedua orang tua pengantin pria didudukkan sebelah kiri pengantin,
orang tua pengantin putri duduk disebelah kanan penganten.
·
Upacara Sungkeman
Sepasang
pengantin melakukan sungkem kepada kedua belah pihak orang tua.
Mula-mula kepada orang tua pengantin wanita kemudian kepada orang tua pengantin
pria. Sungkem adalah merupakan bentuk penghormatan tulus kepada orang
tua dan pinisepuh.
Pada
waktu sungkem ( menghormat dengan posisi jongkok , kedua telapak tangan
menyembah dan mencium lutut yang di-sungkemi), keris yang dipakai pengantin
pria dilepas dulu dan dipegangi oleh perias, sesudah selesai sungkem , keris
dikenakan kembali.
Orang
tua dengan haru menerima penghormatan berupa sungkem dari putra putrinya dan
pada waktu yang bersamaan juga memberikan restunya supaya keduanya
menempuh hidup rukun, sejahtera. Tanpa mengucapkan kata-kata itu, sebenarnya
para orang tua pengantin sudah memberikan restu yang dilambangkan dari kain
batik yang dikenakan yang polanya truntum , artinya punyailah rejeki
yang cukup selama hidup. Kedua orang tua juga menggunakan ikat pinggang
besar yang namanya sindhur dengan pola gambar dengan garis yang
melekuk-lekuk, artinya orang tua mewanti-wanti kedua anaknya supaya selalu
bertindak hati-hati, bijak dalam menjalani kehidupan nyata didunia ini.
·
Ritual lain
Upacara-upacara diatas adalah tradisi yang berlaku
di Yogyakarta, didaerah Surakarta dan lainnya masih ada tambahan ritual yang
lain.
·
Sindhur Binayang
Sesudah ritual Wiji
Dadi, ayah pengantin putri berjalan didepan kedua temanten menuju
ke kursi pengantin didepan krobongan, sedangkan ibu pengantin putri
berjalan dibelakang kedua temanten, sambil menutupi pundak kedua
pengantin dengan kain sindhur. Ini melambangkan,sang ayah menunjukkan
jalan menuju ke kebahagiaan ,sang ibu mendukung.
·
Timbang
Kedua penganten bersama-sama duduk dipangkuan ayahanda pengantin putri. Sesudah menimbang-nimbang sejenak, ayahanda berkata : Sama beratnya, artinya ayah mencintai keduanya , sama ,
tidak dibedakan.
·
Tanem
Selanjutnya, ayah mendudukkan sepasang pengantin dikursi mahligai perkawinan.Itu untuk memperkuat persetujuannya terhadap perkawinan itu dan memberikan restunya.
·
Bubak zawah
Ayah pengantin
putri, sesudah upacara Panggih, minum rujak degan/ kelapa muda didepan
krobongan. Istrinya bertanya : Bagaimana Pak rasanya? Dijawab
: Wah segar sekali, semoga orang serumah juga segar. Lalu istrinya ikut
mencicipi minuman tersebut sedikit dari gelas yang sama, diikuti anak menantu
dan terakhir pengantin wanita. Ini merupakan perlambang permohonan supaya pengantin
segera dikaruniai keturunan.
·
Tumplak
Punjen
Ritual ini dilakukan oleh orang tua yang mengawinkan putrinya untuk terakhir kali. Tumplak artinya menuang atau memberikan semua, punjen adalah harta orang tua yang telah dikumpulkan sejak mereka berumah tangga.
Dalam
ritual ini, orang tua yang berbahagia, didepan krobongan, memberikan
miliknya( punjen) kepada semua anak-anak dan keturunannya. Secara
simbolis kepada masing-masing diberikan sebuah bungkusan kecil yang berisi
bumbu-bumbu,nasi kuning,uang logam dari emas, perunggu dan tembaga dll.Dengan
mengadakan tumplak punjen, orang tua ingin memberi teladan kepada anak
keturunannya,bahwa mereka sudah purna tugas dan supaya generasi penerus
selalu menyukuri karunia Tuhan dan mampu melaksanakan tugas hidupnya dengan
baik dan benar.
·
Tukar
Kalpika
Pengantin melakukan tukar cincin sebagai tanda kasih dan
keterikatan suami istri yang sah.
·
Resepsi
Perkawinan
Sesudah
seluruh rangkaian upacara perkawinan selesai, dilakukan resepsi, dimana kedua temanten
baru, dengan diapit kedua belah pihak orang tua, menerima ucapan selamat dari
para tamu.Dalam acara resepsi, hadirin dipersilahkan menyantap hidangan yang
sudah disediakan, sambil beramah tamah dengan kerabat dan kenalan. Ada
kalanya, sebelum resepsi dimulai, diadakan pementasan fragmen
tari Jawa klasik yang sesuai untuk perkawinan seperti fragmen Pergiwo
Gatotkaca atau tari Karonsih, yang melukiskan hubungan cinta
kasih wanita dan pria.
a.2) Upacara
Perkawinan Adat Bali
Dalam
ajaran Hindu terdapat empat tahap dalam mencapai tujuan hidup, adapun tujuan
hidup tersebut dinamakan Catur Purusa
Artha terdiri dari Dharma,
Artha, Kama dan Moksa. Dalam pelaksanaannya dilakukan secara
bertahap.Sementara dalam Perkawinan adalah bentuk perujudan dari suatu
usaha untuk mencapai tujuan hidup. Dalam lontar Agastya Parwa disebutkan "Yatha
sakti Kayika Dharma" ini bermakna dengan kemampuan sendiri
melaksanakan Dharma.Upacara perkawinan pada hakekatnya adalah upacara
persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha
Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah
mengikatkan diri sebagai suami-istri. Sedangkan pengertian perkawinaan sendiri
adalah jalinan ikatan secara lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk suatu keluarga yang bahagia dan abadi
selamanya hingga akhir usia. Bila seseorang sudah berniat melakukan
perkawinan, diharapkan sudah mereka sudah siap lahir dan batin dalam menempuk
bahtera rumah tangga kelak.Dalam perkawinan umat Hindu di Bali, ada dua
tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas yaitu mewujudkan artha dan kama yang berdasarkan Dharma.
Sebelum
seseorang memasuki jenjang perkawinan dibutuhkan suatu bimbingan, nasehat dan
wejangan agar dalam pelaksaanaannya nanti tidak mengalami kendala, masalah yang
mungkin akan timbul dalam mengarui biduk bahtera rumah tangga, bimbingan ini
diberikan dari orang yang mengerti dan ahli dalam bidang agama Hindu,
orang yang mengerti agama ini akan menerangkan apa yang menjadi tugas dan
kewajiban bagi orang yang telah terikat dalam pernikahan sehinggabisa
mandiri di dalam mewujudkan tujuan hidup mendapatkan artha dan kama berdasarkan
Dharma.Lalu dilanjutkan dengan proses penyucian diri yang bertujuan memberikan
kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki
karmanya (umat Hindu di Bali percaya
leluhur yang sudah meninggal dapat berenkarnasi dalam perujudan anak cucu
kembali) untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik,
itu adalah manfaat jadi manusia. Melahirkan anak lewat perkawinan mengasuh,
membimbing, memeliharanya dan mendidik dengan penuh kasih sayang sesungguhnya
suatu yadnya kepada leluhur. Terlebih lagi kalau anak tersebut dapat menjadi
manusia yang sempurna, akan merupakan suatu perbuatan melebihi seratus yadnya,
demikian disebutkan dalam Slokantara.
Perkawinan
bagi umat Hindu merupakan sesuatu yang suci dan sakral. Saat itu perkawinan
layak atau tidak nya ditentukan oleh seorang Resi, dimana sang Resi (Bramana Sista) ini mampu melihat
lewat mata batin cocok tidaknya dari pasanngan yang akan dinikahkan, bila tidak
cocok atau jodoh akan dibatalkan karena bisa berakibat buruk bagi kehidupan
rumah tangga mereka nanti. Namun seiring masa berganti dan pertimbangan duniawi
lebih mempengaruhi orang tua dalam memilih jodoh untuk anak anak mereka dan
bukan lagi nilai budi pekerti yang di junjung tinggi. Pernikahan adat Bali
menggunakan sistem patriarki
yaitu semua tahapan dan proses pernikahan dilakukan di rumah mempelai pria.
Menurut UU
perkawinan no 1 thn 1974, sah tidaknya suatu perkawinan adalah sesuai
menurut hukum dan agama masing masing.
Proses
upacara adat pernikahan di Bali disebut “ Mekala-kalaan (natab banten). Pelaksaan upacara ini dipimpin
oleh seorang pendeta yang diadakan di halaman rumah sebagai titik sentral
kekuatan Kala Bhucari yang
dipercaya sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan.Makalan-kalaan
sendiri berasal dari kata Kala yang mengandung pengertian energi. Upacara
mekala-kalaan ini mempunyai maksud untuk menetralisir kekuatan kala/energi yang
bersifat buruk/negatif dan berubah menjadi positif/baik.Adapun maksud dari
upacara ini adalah sebagai pengesahan perkawinan antara kedua mempelai dan
sekaligus penyucian benih yang terkandung di dalam diri kedua mempelai.
a.2.1) Peralatan Mekala-kalaan dan
symbol upacara adat perkawinan Bali
·
Sanggah
Surya/bambu melekungmerupakan niyasa
(simbol) istana Sang Hyang Widhi Wasa,
ini merupakan istananya Dewa Surya
dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Di sebelah
kanan digantungkan biyu lalung simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi
sebagai Sang Hyang Semara Jaya
sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria dan di
sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi beremsimbol kekuatan
prakertinya Sang Hyang Widhi
dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang
Semara Ratih dewi kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin
wanita.
·
Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg)simbol calon pengantin yang
diletakkan sebagai alas upacara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.
·
Tikeh Dadakan (tikar kecil)Tikar yang diduduki oleh pengantin
wanita sebagai simbol selaput dara (hymen)
dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikar adalah sebagai simbol
kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan
yoni).
·
Keris
sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa
(kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris,
dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria.
·
Benang
Putihdibuatkan sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi
satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon
dapdap setinggi 30 cm. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil
dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan upacara
mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi
sirna dengan upacara penyucian tersebut. Dari segi spiritual benang ini sebagai
simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk
meningkatkan alam kehidupannya dariBrahmacari
Asrama menuju alam Grhasta
Asrama.
·
Tegen – tegenanMakna tegen-tegenan
merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala.
Adapun Perangkat tegen-tegenan ini :
1.
Batang
tebu berarti hidup pengantin mengandung arti kehidup dijalani secara
bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas, secara manis.
2.
Cangkul
sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan
Dharma.
3.
Periuk
simbol windhu.
4.
Buah
kelapa simbol brahman (Sang Hyang
Widhi).
5.
Seekor
yuyu/kepiting simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.
·
Suwun-suwunan(sarana jinjingan)Berupa bakul yang dijinjing mempelai
wanita yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas
wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti
pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.
·
Dagang-daganganmelambangkan
kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung
segala resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar
penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.
·
Sapu
lidi (3 lebih). Simbol Tri Kaya
Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain,
isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan
kewajiban melaksanakan Tri Rna
berdasarkan ucapan baik, prilaku yang baik dan pikiran yang baik, disamping itu
memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga.
·
Sambuk Kupakan (serabut kelapa). Serabut kelapa dibelah tiga, di
dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat
dengan benang berwarna tiga (tri datu).
Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna
(satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu
simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu,
Siwa) mengisyaratkan kesucian.Telor bebek simbol manik. Kedua Mempelai
saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah
itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Ini mengandung pengertian
Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di
masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri,
agar kekuatan triguna dapat terkendali. Selesai upacara serabut kalapa ini
diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.
·
Tetimpugadalah bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang
bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.
a.2.2) Rangkaian upacara
·
Upacara Ngekeb:
Acara
ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja
menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga dengan memohon doa restu kepada
Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini
serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.
Setelah
itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang
terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah
dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk
keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk
keramas.
Sesudah
acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat bali akan dilanjutkan dengan
upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan
sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak
diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput.
Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai
dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning
tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia
mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan
baru bersama pasangan hidupnya.
·
Mungkah Lawang (Buka Pintu):
Seorang
utusan Mungkah Lawang bertugas
mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak tiga kali sambil
diiringi olehseorang Malat yang
menyanyikan tembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan
jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita dan memohon agar
segera dibukakan pintu.
·
Upacara Mesegehagung:
Sesampainya
kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu
untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung
yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita,
kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria
akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain
kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang
kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua
ratus kepeng
·
Madengen–dengen:
Upacara
ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari
energi negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat
atau Balian
·
Mewidhi Widana:
Dengan
memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang dipimpin oleh
seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan
penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri
pengantin yang telah dilakukan pada acara acara sebelumnya. Selanjutnya,
keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu
Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan
·
Mejauman Ngabe Tipat Bantal:
Beberapa
hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang
telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin
pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan/menerima tamu. Acara ini
dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga
pengantin wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin
wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara
pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang
berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot,
kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang, bermacam
buah–buahan serta lauk pauk khas Bali.
C.
PENGAWASAN KEHAMILAN SECARA TRADISIONAL
Dengan berpegang teguh pada konsep bahwa
kehamilan bukan semata-mata proses biologis ,tapi jauh dari pada itu adalah
karunia Tuhan Yang Maha Esa ,pengawasan hamil pun dilaksanakan berdasarkan
keyakinan itu. Seperti di ketahui bahwa sebagian besar pengawasan hamil
,persalinan ,pengawasan pasc partum masih tatap dilakukan oleh “dukun anak atau
paraji”. Dengan demikian landasan pasrah terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tidak
dapat di tinggalkan dengan melakukan tindakan ritual yang sesuai dengan daerah suku bangsa di setiap daerah. Di
antara ritual yang penting dan masih di lakukan antara lain sebagai berikut .
a) Upacara
Melewati Kritis Tiga Bulan
Keguguran paling sering terjadi pada
bulan ketiga ,sehingga bila dapat melawatinya duperlukan syukuran sesuai dengan
daerahnya.
Di jawa barat terdapat Mangrupa (melewati krisis tiga bulan
) ,Usik (karena telah di rasakannya gerakan janin dalm perut ibunya), jawa
umunya terdapat Catur Hangga Jati (bentuk tubuh janin makin nyata dan akan
terus berkembang) dan Panca Yitma Jati (mulai di rasakan gerakan janin pada
perut ibunya). Di bali terdssapat Pumsawana (upacara terbentuk bayi bergerak ).
Menurut konsep embriologi Islam ,
sejak saat ini ruh diembusakn oleh “malaikat deengan sambilmeniliskan empat
ketetapan nasib manusia sebelum lahirnya yang di tandai dengan terjai gerak
pertama yang di rasakan ibu ketika kehidupan di mulai. Dalam ilmu obstetric
modern tidak salah untuk melakukan
ungkapan syukur karena krisis pertama (tiga bulan) telah di lampaui dan mulai
di rasakan gerakan pada perut ibu.
b) Upacara
Melampaui Krisis Kehamilan Tijuh Bulan
Upacara kehamilan tujuh bulan masih sering di lakukan
masyarakat sebagai ungkapan terimakasih dan syukur karena telah melewati krisis kehamilan dan
keluarga telah siap menyongsong kelahiran dari si jabang bayi. Bila
diperhatikan penanggalan bayi yang berumur 35 hari di Jawa dan Bali , upacara
syukuran tujuh bulan berarti umur bayi dalam kandungan telah mencapai 35
minggu atau 245 hari . seandenya terjadi
proses kelahiran setelah upacara , bayi telah mampu hidup di luar kandungan.
Upacara di Jawa
di sebut “ mitoni” sedang di Bali di sebut “megedong –gedongan.
c) Peranan paraji atau dukun beranak
Di samping pengawasan kehamilan secara ritual oleh
paraji , mereka juga dapat menjadi penasehat untuk hamil dan keluarganya dan siap untuk di
panggil. Paraji atau dukun beranak baik
sebagai penasehat kejiwaan ibu hamil khususnya keluarga baru dan sebagai
penasehat tentang makanan yang boleh di konsumsi dan tidak . tujuannya
agar kehamilan , persalinan serta kesehatan setelah persalinan dapat berlangsung
dengan baik. Peranan paraji atau dukun beranak di jabarkan sebagi berikut.
1.1) Peran sebagai penasehat tentang kejiwaan
Nasehat yang di berikan paraji atau
dukun dalam hal kejiwaan ibu hamil dan keluarga meliputi
(a) Suami-suami di nasehati untuk
menjaga perilaku kehidupan rumah tangganya agar sehingga tidak menggoncangkan
kejiwaan sehingga tumbuh kembangnya
janin dalam kandungan berlangsung dengan baik.
(b) Dianjurkan untuk melihat segala
sesuatu yang baik, sehingga tumbuh kenbang janin dan bayinya berkembang dengan
baik.
(c) Dianjurkan untuk membaca cerita
tentang keindahan, kepahlawanan , sehingga janin dan bayinya akan menjadi suka
membaca.
(d) Dilarang untuk melihat hal-hal yang
buruk , missal memotong ayam .
(e) Bila menjumpai haal-hal yang dapat mengejutkan, khususnya ibu dari suku jawa akan menyebutkan “amit-amit jabang
bayi”, sammbil mengelus perutnya 3 kali,
diharapkan tidak ada pengaruh terhadap
tumbuh kembang janin dalam rahim.
(f) Diharapkan agar suami ikut berperan
baik dan menganggap bayinya sudah dapat diajak bicara, karena itu bila akan
pergi dianjurkan berpamitan atau bila pulang membawa oleh-oleh.
(g) Suami tidak diperbolehkan melakukan
hubungan seks setelah kehamilan berumur sekitar 7 bulan.
(h) Ketika istri berpergian dan
melangkan kaki melampui pintu mrngucapkan “among-omonge si jabang bayi”.
(i) Nasehat itu mencerminkan bahwa
keadaan baik atau buruk dapat mempengaruhi
tumbuh kembang kejiwaan janin.
1.2)
Peran sebagai penasehat tentang
makanan saat hamil Paraji
atau dukun beranak serang mengasosiasikan makanan tertentu yang di anggap dapat
mengganggu tumbuh kembang janin dalam rahim dan proses persalinan . sebagi
contoh makanan yang di sebutkan.
(a) Ibu tidak diperbolehkan makn nanas
terutama nanas muda yang di anggap dapat menimbulkan gugur kandungan atau
persalinan muda.
(b) Ibu di larang makan kerak nasi
karena dapat menyulitkan persalinan plasenta.
(c) Ibu tidak di benarkan makan jantung
pisang, karena di anggap dapat
melahirkan bayi berwarna hitam.
(d) Ibu tidak boleh makan pisang yang dempet
karena di asosiasikan dapat melahirkan bayi dempet.
(e) Ibu dilarang makan hati, karena
bayinya dapat menjadi kerdil dan bodoh.
(f) Ibu dilarang makn telur karena
bayinya dapat penyakit bisulan.
(g) Ibu dilarang makan ikat laut dan
darat karena ASInya dapat menjadi asin rasanya dan di tolak bayinya.
Ibu dianjurkan untuk minum air dan
isi kelapa muda agar kulit bayi bersih, dan tidak banyak verniks kaseosanya saat dilahirkan.
Bagaiman penjelasan memang sulit
diterangkan.
Jika disimak
secara keseluruhan, yang dianjurkan pada ibu hamil adalah makanan yang mengarah pada
“vegetarian”. Dengan makanan vegetarian , sifat0sifat kebinatangan akan menjadi
sirna, sehingga pertumbuhan kejiwaan janin menjadi lebih tenang, berbudi luhur,
dan tawakal. Prinsip ini berbeda dengankonsep mkanan menurut obstreti modern.
d.
proses Persalinan Secara Tradisional
Dalam literature kuno tidak banyak
di jumpai tentang proses persalinan kecuali dalam atharwa Weda yang intinya :
(1)
Mengharapkan agar proses persalinan berjalan
lancar .
(2)
Saya
menguak kantong bayi (yoni), memisahkan bayi dari ibunya, semoga bayi terpisah
dari ari-arinya dan lancar keluar.
(3)
Bahwa
proses persalinan sulit di perkirakan, sehingga bila terjadi masalah itu merupakan
nasib yang bersangkutan.
Di bali di umpamakan bahwa proses
persalinan ibu laksana tergantung pada sehelai rambut, artinya setiap saat
dapat terancam oleh bahaya yang mun gkin saja merenggut jiwanya. Bagi dukun
beranak atau paraji yang akan melaksanakan tugasnya, selalu memohon petunjuk
yang maha kuasa sehingga proses pertolongan persalinannya dapat berjalan
lancar.
Dalam menghadi proses persalinan
terdapat dua hal penting yang perlu mendapat perhatian yaitu memotong tali
pusat dan menanam plasenta (ari-ari) yang dapat dijabarkan sebagai berikut.
¨
Memotong
tali pusat
Teknik memotong tali pusat sangat cermelang oleh karena
dasar seterilitas telah di terapkan sebagai berikut:
Ø Menggunakan sembilu yang dibuat dari
bambu untuk memotongnya
Ø Dalam menjamin seterilitasnya mata
sembilu di iriskan terlebih dahulu pada kunyit (yang mengandung iodium).
Selanjutnya kuyit tali pusat di potong dan di ikat dengan benang.
Ø Tali pusat dibungkus dengan semacam
rempah-rempah, sehingga kering dan cepat lepas dari perut bayinya.
Ø Tali pusat di keringkan dengan abu.
Ø Setelah tali pusat lepas disimpan
atau di gantungkan pada leher bayi. Penggantungan pada leher sebagai simbul
bahwa bayi masih ada hubungan dengan empat saudaranya itu. Dengan teknik
demikian diharapkan tidak akan terjadi infeksi melalui jalur tali pusat menuju
bayinya.
¨
Perawatan
plasenta
Sikap suku bangsa di Indonesia terhadap
plasenta (ari-ari) cukup baik yaitu menberi semacam penghormatan karena jasanya
melindungi janin sampei saat berlangsung proses persalinan.plasenta mewakili
tiga lainya yaitu air ketuban, tali pusat, dan darah retroplasenter. Perawatan
plasenta ditugaskan kepada suami yang mempersiapkan diri dengan jalan mandi dan
berpakaian yang bersih dan baik.
Sebuah
buah lubang dibuat dengan dalam secukupnya, sehingga keberadaan ari-ari tidak
diganggu oleh binatang. Tempat ari-ari sebelum dan saat menanam dapat
dipergunakan kendil dari tanah atau kelapa yang telah dibelah dua ada juga yang
menggunakan lemper. Pada saat menanam kendil,lemper atau batok kelapa di isi
garam atau rempah0rempah sehingga cepat kering dan tidak berbau, di isi lontar,
pensil yang menginginkan agar anaknya menjadi pandai, di bungkus dengan kain
putih, di atasnya di beri batu pemberat sehingga tidak di gali oleh binatang ,
di beri semacam sesajaen dan lilin yang
tetap menyala selama 42 atau 45 hari. Oleh karena dianggap ada hubungan dengan
bayi , setiap hari ari-ari itu diberi ASI juga sebagai personifikasi bahwa
ari-ari ikut minum ASI.
Secara
simbolik mperawatan ari-ari sebagai saudaranya bayi mendapat perhatian di
Indonesia. Arti simbolik yang di cermikan diantaranya dengan tidak menanamnya
sehingga rezekinya tidak sulit dan selama masa puerperium, ari-ari mendapatkan
pemeliharaan yang baik, seolah-olh masih ada hubungan dengan bayinya. Apa saja
yang di berikan pada bayi , ari-ari juga akan mendapatkannya. Di Bugis,di
tempat ari-ari ditanam pula pohon kelapa (pohon serba guna). Di Bali, bila menanam
ari-ari di sebelah kanan pintu kamar berarti bayinya laki-laki, sedangkan bila
di kiri berarti perempuan sebagai simbul agar anaknya serba mampu mengarungi
hidup.
e) Pengawasan
pasca partum secara tradisional
Setelah kelahiran bayi, masalah
perawatan pasca partum lebih banyak di tujukan untuk mempercepat pemulihan
kesehatan ibunya dan persiapan untuk dapat memberi ASI
berkelanjutan. Pada perawatan pasca partum di jawa sering di beri jamu
dengan tujuan mempercepat pulihny akesehatan, memperlancar pengeluaran lokia
dan kebersihanya,mempercepat dan pengeluarkan ASI. Untuk mencapai sasaran
tersebut telah di siapkan jamu-jamu khusus.
Sesuai konsep obstetri modern, early
mobilization mungkin perlu di anut, karena di Surabaya pernah terjadi ibu pasca
partum yang di harusakan tidak terlentang selama 40 hari, sehingga kedua
labiumnya menjadi melekat.
f) Perawatan
bayi baru lahir
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat
syukuran dengan upacara ritual karena kelahiran bayi yang di dambakan. Serentetan
upacara ritual di laksanakan dengan tujuan agar keselamatan bayi dapat
berlangsung dengan baik. Perhatian perlu di berikan pada saat bayi berumur 6
bulan melakukan kontak tanah untuk pertama kalinya. Upacara itu cukup besar,
karena mulai saat ini, bayi sudah mendaoatkan kekuatan dari alam, khususnya
tanah. Bila di analokkan anak modern,
umur 6 bulan sudah menipis anti bodynya yang di bawa sejak dalam kandungan,
sehingga bayi hrus dapat membentuk sendiri anti body untuk pertahanan penyakit
dari luar tubunya. Oleh karena itu bayi harus mulai kontak dengan tanah,
sehingga mendapatkan anti gen yang akan merangsang tumbuh kembang anti body
sebagai pertahanan tubuhnya. Di Jawa peristiwa ini di sebut “tedhak siten” dan
di Bali “turun tanah”.
D. GAMBARAN ASPEK REPRODUKSI DALAM CERITA
MAHABARATA
Dalam cerita mahabarata di gambarkan
sebagai aspek reproduksi yang menjadi kenyataan saat ini dan sebagian masih
merupaakn impian IpTekDok untuk dapat mencapainya. Beberapa aspek reproduksi
yang di kaitkan denga cerita mahabarata
tersebut di uraikan berikut ini.
Pembunuhan bayi baru lahir
Raja
pratipa sedang bertapa di tepi sungai gangga dan di datangi dewi gangga yang
duduk dip aha kanannya untuk meminta raja menjadi suaminya. Raja pratipa menolak
karena dewi gangga duduk dipaha kanannya yang seharusnya tempat untuk
menantunya. Raja pratipa mengharapkan agar dewi gangga bersedia menjadi
menantunya setelah outranya lahir.
Setelah putra raja pratipa sentanu
dewasa dan kebetulan berada di tepi sunggai gangga, dewi gangga dating dengan
kecantikannya yang luar biasa. Putra mahkota sentanu,bertemu dengan dewi gangga
dan memintanya untuk menjadi istrinya. Dewi gangga setuju dengan syarat yaitu
tidak berbicara keras kepadanya selama menjadi suaminya dan tidak melarang
apapun yang di perbuatnya. Selama sarat itu di penuhi, raja sentanu akan
mendapatkan kebahagiaannya.
Dalam kurun waktu tertentu, dewi
gangga telah melahirkan purta seabanyak
7 kali tetapi semuanya di buang di sungai gangga sampai tewas. Saat putranya
yang ke-8 lahir dan akan di buang kesungai gangga, raja sentanu menegurnya
sehingga perkawinanya mengalami kegagalan. Dewi gangga masih besedia untuk
memelihara putra raja sentanu hingga dewasa yang memiliki kemahiran Veda dan
berperang yang tangguh. Membuang bayi saat ini sudah bukan hal baru karena
sejak zaman maha barata telah di jumpai.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari
pembahasan di muka dapat di simpulkan :
1.
Bangsa
Indonesia seharusnya bangga karena mempunyai kebudayaan asli yang dapat di
kaitkan dan mendukung konsepm reproduksi
. kebudayaan yang sangat erat kaitanya adalah ruwatan wayang yang selalu di
ikuti gamelan.
2.
Proses
perkawinan adlalah proses sakral yang bertujuan dapat menurunkan “keturunan”
yang baik, berbudi luhur, tagwa kepada tuhan Yang Maha Esa.
3.
Dalam
upeya mendapatkan keturunan hubungan
seksual harus di sesuaikan dengan doa,sehungga keturunan yang di idamkan
tercapai. Larangan untuk melakukan hubungan seksual sembarangan bertujuan untuk
meningkatkan kualitas dan melaksanakan
konsep keluarga berencana.
4.
Pengawasan
selama kehamilan , persalinan, dan
pengawasan pasca partum masih di
dominasi oleh dukun, sehingga dapat di paastikan dukun beranak atau paraji selalu berorientasi pada permohonan untuk
keselamatan ibu dan bayinya melalui upacara ritual yang masih di
laksanakan oleh masyarakat Indonesia.
Melakukan permohonan untuk keselamatan
ibu dan bayinya , sangat tepat karena Negara kita berdasarkan pancasila. Dalam pengawasan
hamil, dua upacara ritual yang masih dapat dilaksanakan adalah upacara setelah 4 bulan (
catur hangga jari atau panca yitma jati , mitoni atau megedong-gedongan),
upacara ritual pada ibu pasca partum yiatu upacara selesainya masa puerperium (selapan atau
kambuhan) , upacara khusus untuk bayinya
saat turun tanah (tedhak siten atau turun tanah).
5.
Dalam
mahabrata telah di gambarkan berbagai kejadian
dalam aspek reproduksi yang kini menjadi kenyataan dalam kehidupan
sehari-hari seperti kasus membuang bayi.
Daftar Pustaka
Menuaba,
IBG.(2006). Memahami Kesehatan Reproduksi
Wanita.Jakarta: penerbit buku kedokteran ECG
GAMELAN
WAYANG
BATIK
SIRAMAN
SIRAMAN 7 BULANAN
PEMOTONGAN TALI PUSAT
PLASENTA