Sabtu, 02 November 2013



KATA PENGANTAR

Segala  puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini tepat waktu.Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar  yang diberikan oleh Drs. Boedi Astowo,M. si
Dengan judul “ADAT  ISTIADAT REPRODUKSI”
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah yang saya susun. Maka dari itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi terciptanya kesempurnaan dalam makalah ini.Semoga dengan disusunnya makalah ini dapat memberikan manfaat terutama dalam menambah pengetahuan dan pemahaman terhadap materi Ilmu Sosial Budaya Dasar khususnya bagi saya. Semoga makalah ini berguna bagi kita semua terutama mahasiswa kebidanan.











Kediri, 01 November 2012



         Nur tatik



BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

        Bangsa Indonesia mempunyai perjalanan sejarah yang panjang dan sudah tua, sehingga mempunyai berbagai bentuk kebudayaaan dan adat istiadat asli. Sebagian dari kebudayaan dan adat istiadat itu berkaitan dengan masalah reproduksi yang dapat dijabarkan secara modern, yang meliputi beberapa masalah reproduksi yang tersurat dan tersirat dan masih dilaksanakan masyarakat yang semakin modern ini.
Indonesia mempunyai banyak suku bangsa dengan adat istiadat dan kebiasaan yang bervariasi. Semua bentuk variasi adat dan budaya tersebut bertujuan untuk mencari dan menegakkan keselamatan keluarga, lingkungan, dan bahkan bangsa Indonesia.  





















BAB II
PEMBAHASAN

A.    KEBUDAYAAN ASLI INDONESIA
Indonesia merupakan negara yang sudah tua, terletak di persimpangan jalan laut dan diantara dua benua.Indonesia mempunyai kebudayaan dan adat asli yang patut dibanggakan.Diantara kebudayaan asli Indonesia adalah wayang, gambaran, kemampuan membatik, konsep “catur sanak” empat saudara embrio Berikut uraian singkat hubungan kebudayaan dengan reproduksi modern.
1.      Kebudayaan Wayang
Wayang yang kita miliki hanya empat buah,satu pasang ditempatkan dan dimainkan oleh tangan kanan dan sebaliknya disebelah kiri dimainkan oleh tangan kiri.Keberadaan wayang ini mencerminkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai kebiasaan bertutur dan senang bercerita. Contoh wayang dari Jawa adalah tokoh semar-gareng, dan petruk-bagong.Wayang dari Bali contohnya Melem berpasangan dengan Sangut, Twalen berpasangan dengan Merdah.Dengan perkembangan agama Hindu ke Nusantara, ikut bersama penyebaran itu adalah cerita besar yaitu Ramayana dan Mahabarata.Dua pasang wayang asli Indonesia masih tetap dipertahankan dan sebagai pengantar cerita itu.
Berkaitan dengan masalah reproduksi,wayang mendapat tempat untuk melakukan “ruwatan”. Ruwatn adalah pementasan wayang khusus untuk  menembus  pembawaan lahir ,sehingga mendapat keselamatan,yang biasa di lakukan di jawa dan bali. Keadaan kekeluargaan yang perlu di lakukan “ruwatan” adalah ontang-anting (anak laki-laki tunggal), untang-unting (anak perempuam tunggal),uger-uger lawang (dua anak laki-laki), kembang sepasang (dua anak perempuan), sedang kampit pancuran (tiga anak perempuan di tenggah), serimpi (empat anak perempuan semua).Penebusan noda kelahiran dengan“ruwatan”merupakan keyakinan masyarakat, sehinnga harus di laksanakan untuk keselamatan kelanjutan keluarga dan hidup yang lebih sejahtera.

2.      Gamelan
Kita harus bangga bahwa ternyata gamelan yang sangat kompleks itu adalah hasil kreasi budaya bangsa Indonesia yang asli.Perkembangan gamelan, di seluruh Nusantara sangat bervariasi, bergantung pada kebutuhan masyarakatnya.sebagian sudah tidak diperlukan lagi dalam tatanan kehidupan,sebagian masih tapi jumlahnya sedikit berkurang.
Di Jawa dan Bali gamelan masih cukup lengkap,karena masih di butuhkan dalam berbagai bentuk pelaksanaan dan pertunjukan.dalam kaitan dengan aspek reproduksi ,gamelan di gunakan pada upacara “ruwatan” dengan pementasan wayang. Disamping itu pementasan berbagai kreasi budaya tarian banyak menggunakan gamelan untuk mengiringinya,sebagai manifestasi syukuran atas keberhasilan. Misalnya,menikah, mempunyai keturunan , atau upacaya  selamatan anak dalam ruang lingkup reproduksi.
Gamelan asli Indonesia tetap berkembang Karena didukung oleh pendidikan tingginya, misalnya Institute Seni Indonesia (ISI) DI Jakarta,Bali dan Jogjakarta. Di bali di kembangkan Sekolah Menenggah Karawitanindonesia (SMKI) sebagi sarana pendidikan resmi.

3.      Kemampuan membatik
Keindahan kasat mata dari batik dapat dinikmati dari pada bentuk, komposisi ornamen dan warna yang dihasilkan serta dari kecermatan, ketelitian dan penjiwaan dalam proses pembuatannya.Secara makna keindahan batik dapat dilihat dari cerminan kearifan budaya pada masanya.Sebagai salah satu produk warisan budaya, penelusuran tentang sejarah, makna dari batik baik yang secara lisan dituturkan turun temurun maupun secara tertulis sangat menarik untuk dilakukan, dipelajari dan dilestarikan.
Dalam rangka memberikan pengetahuan tentang batik bagi masyarakat umum sebagai bagian dari upaya pelestarian batik, pada 12 juni-17 juni 2010 lalu paguyupan pecinta batik ‘Sekar jagad’ menyelenggarakan pameran batik beretajuk “Batik Riwayatmu Doeloe, Kini dan Esok” di Taman Budaya Yogyakarta.
Dalam pameran tersebut selain dipajang berbagai motif batik,juga disajikan batik-batik yang digunakan dalam rangkaian daur kehidupan manusia.Kemampuan membatik khususnya batik tulis, merupakan budaya bangsa Indonesia asli, terutama di Solo, Yogya, Pekalongan dan sekitarnya. Batik yang dikaitkan dengan masalah reproduksi adalah saat dilakukan perkawinan ,saat melakukan “pitonan”,dan sebagai pembungkus bayi baru lahir , kitanan ,bahkan di gunakan pda saat kematian.
·        Batik dalam Upacara Mitoni
Disaat usia kehamilan pertama seorang ibu sudah berusia tujuh bulan, diadakan upacara mitoni dengan harapan agar sang bayi nantinya lahir dengan selamat, lancar dan dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang baik, berbudi luhur dan bertakwa kepada Tuhan YME, bermanfaat bagi sesama dan alam lingkungannya.  batik yang digunakan dalam acara mitoni antara lain batik sidomukti, sida asih, sida luhur, sida mulya, sida dadi, babon angrem/babon ngubluk, wakyu tumurun, naga sari, grompol dan semen rama.
·        Batik untuk acara mitoni
Kopohan berasal dari kata kopoh yang berarti basah kuyub.Batik dalam kopohan digunakan sebagak alas saat bayi lahir dari rahim ibunya Dikemudian hari, bila anak sakit atau rewel, kain tersebut digunakan untuk menggendong dengan harapan agar sehat kembali. motof kain kopohan antara lain kawung, parang, truntum dan cakar. Sedangkan untuk menggendong placenta yang sudah diletakkan dalam kendhil sebelum dikubur atau dilarung menggunakan batik motif parang rusak (lingkungan keraton), sida mukti, semen rama, sida luhur, dan  wahyu tumurun. Batik untuk emban-emban atau menggendong bayi antara lain bermotif kawung, truntum, parang, semen sawat manah, sisik buntal, panji puro atau slimun.
·        Untuk acara tetesan, taraban dan Khitan
Tetesan (khitan untuk anak perempuan) dan khitan menggunakan batik bermotif kecil dan melambangkan kesegaran dan harapan menjadi orang yang berkepribadian baik, bahagia antara lain parang pamor dan parangkusumo. Untuk upacara taraban(pertama kali mendapatkan haid) setelah gadis melakukan siraman, mengenakan batik motif parang cantel atau parang kusuma.
·        Perkawinan
Acara perkawinan dimulai dengana cara melamar yang dilakukan oleh keluarga laki-laki mengenakan motif parang, lambang ketajaman rasa dan pikir. semen latar putih lambang kebaikan dan batik bermotif ceplok.Setelah lamaran diterima dilakukan peningsetan sebagai tanda ikatan suami istri digunakan batik motif satriya manah untuk laki-laki dan semen rante untuk perempuan.
Sehari sebelum pernikahan diadakan upacara siraman dan malamnya midodareni.Pada saat siraman digunakan batik motif wahyu tumurun, cakar , grompol. Sedangkan pada midodareni digunakan batik dengan motif semen rama, satria wibawa, truntum, wahyu tumurun.Pada acara akad nikah dan panggih dikenakan batik dengan motif sida mulya, sidamukti, sida luhur, sida asih, bouket.
·        Batik dalam kematian.
Ketika seorang jawa meninggal, sebelum dimakamkan, jenazah dilurupi/ditutup menggunakan batik kesayangan almarhum atau motif kawung (simbol balik ke alam suwung=kembali ke alam kesunyian) atau slobog ( dari kata lobok atau longgar) dengan harapan orang yang meninggal mempunyai kelapangan dan tidak menemui halangan ketika menghadap Sang Khalik.
Setelah mempelajari sedikit tentang batik dalam kehidupan manusia,rasanya tak heran bila batik menjadi warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. tetepi seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, saat ini disamping batik tulis yang memang dibuat dengan tangan (hand made) berkembang pula batik cap dan batik printing. Menurut Guide yang saya temui selama pameran batik mengatakan batik yang diakui oleh Unesco adalah batik Tulis dan Batik Cap, apabila dikemudian hari batik tulis tidak dilestarikan dan digantikan dengan tekstil potif batik yang dibuat melalui printing, maka bukan tidak mungkin pengukuhan UNESCO akan dicabut.Untuk itu dituntut kejelian pemakai batik, jangan sembarang memakai batik, tetapi usahakan menggunakan batik tulis atau minimal menggunakan batik cap. untuk membedakannya, batik tulis mempunyai goresan halus, bila dilihat mempunyai kedalaman makna dan kadang dibuat tidak bolak balik, sedangkan batik printing, meskipun sulit dibedakan, tetapi goresannya kaku dan gambarnya tidak mempunyai kedalaman makna.       
Ketika pitonan/mitoni, di lakukan upacara busana , sampai “tujuh kali” hingga ibu di nyatakan pantas dan cocok mengenakannya. Sebagi simbul melakukan upacara syukuran bahwa kehamilannya sudah mencapai umur tujuh bulan dengan motif khusus . Kehamilan tujuh bulan , dengan perhitungn bulan  berumur 35 hari, menurut obstreti modern sudah mencapi 35 minggu , sedang bila umur  36 minggu, bayi sudah di anggap aterm.Secara tradisional, kehamilan tujuh bulan sudah melampaui kritis, sehingga bila sudah lahir sudah dapat hidup di luar kandugan. Ini adalah makna batik yang dikaitkan dengan aspek reproduksi khusus  bagi keluarga baru untuk menyongsong kelahiran anak itu. 

B.     FILOSOFI TRADISIONAL
Sekalipun tatanan pelaksanaan filosofis di Indonesia sanget berfariasi, mulai dari proses meminang, perkawinan, sampai perawatan masa kelahirannya. Semua aktifitas tersebut mempuanyai tujuan  yang sama agar semua proses tersebut berjalan dengan lancar, mencapai keselamatan peerkawinan tetap langgeng, banyak rezeki, dan panjang umur sampai panjang usia tetap rukun.
Bila diperhatikan proses perkawinan di setiap daerah sifatnya sacral dan di sesuaikan dengan adat-istiadat yang berlaku di daerahnya. Bila di simak secara keseluruhan dalam proses perkawinan saja bangsa Indonesia mempunyai begitu banyak variasi yang merupakan kekayaan budaya yang perlu di pertahankan. Kita patut merasa bersyukur karena pendahulu  dan pendirii NKRI menemukan jati dirinya dalam bentuk BHINEKA TUNGGAL IKA ,yang berarti kesatuan dalam keanekaragaman.
a)      Perkawinan
Proses perkawinan adalah sakral yang tujuannya memcapai kelanggengan dalam menempuh hidup selanjutnya sampai lanjut usia. Hubungan cinta kasih wanita dengan pria, setelah melalui proses dan pertimbangan , biasanya dimantapkan dalam sebuah tali perkawinan, hubungan dan hidup bersama secara  resmi  selaku suami istri dari segi hukum, agama dan adat.
Di Jawa seperti juga ditempat  lain, pada prinsipnya perkawinan terjadi karena  keputusan dua insan yang saling jatuh cinta.Itu merupakan hal yang prinsip. Meski ada juga perkawinan yang terjadi karena dijodohkan orang tua yang terjadi dimasa lalu.Sementara orang-orang tua zaman dulu berkilah melalui pepatah : Witing tresno jalaran soko kulino, artinya : Cinta tumbuh karena terbiasa.
a.1)       Perkawinan adat jawa
Di Jawa dimana kehidupan kekeluargaan masih kuat, sebuah perkawinan tentu akan mempertemukan dua buah keluarga besar. Oleh karena itu, sesuai kebiasaan yang berlaku, kedua insan yang berkasihan  akan memberitahu keluarga masing-masing bahwa mereka telah menemukan pasangan yang cocok dan ideal untuk di jadikan suami atau istri.
Secara tradisional,pertimbangan penerimaan seorang calon menantu berdasarkan kepada bibit, bebet dan bobot.
Bibit         : artinya mempunyai latar kehidupan keluarga  yang baik.
Bebet       :      calon penganten, terutama pria, mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bobot       :      kedua calon penganten adalah orang yang berkwalitas, bermental baik dan     berpendidikan cukup.
Biasanya setelah kedua belah pihak orang tua atau keluarga menyetujui perkawinan, maka dilakukan langkah-langkah selanjutnya, menurut kebiasaan adalah sebagai berikut :

a.1.1) Pinangan
Biasanya yang melamar adalah pihak calon penganten pria.Pada masa lalu, orang tua calon penganten pria mengutus salah seorang anggota keluarganya untuk meminang.Tetapi kini, untuk praktisnya orang tua pihak lelaki bisa langsung meminang kepada orang tua pihak wanita . Bila sudah diterima, langsung akan dibicarakan langkah-langkah selanjutnya sampai terjadinya upacara perkawinan.
Hal-hal yang perlu dibicarakan antara lain meliputi : tanggal dan hari pelaksanaan perkawinan, ditentukan kapan pernikahannya, jam berapa, biasanya dicari hari baik.Kalau hari pernikahan sudah ditentukan, upacara lain yang terkait seperti : peningsetan, siraman, midodareni, panggih , resepsi dll, tinggal disesuaikan.
Tidak kurang penting adalah pemilihan seorang pemaes, juru rias penganten tradisional.Dalam upacara perkawinan tradisional,  peran seorang perias temanten sangat besar, karena dia beserta asisten-asistennya  akan membimbing, paling tidak memberitahu seluruh pelaksanaan upacara, lengkap dengan sesaji yang diperlukan.Seorang pemaes yang  kondang, mumpuni dan  ahli dalam bidangnya ,biasanya juga punya jadwal yang ketat, karena laris, diminta merias dibanyak tempat, terlebih dibulan-bulan baik menurut perhitungan kalender Jawa. Oleh karena itu, perias temanten harus dipesan jauh hari.
Perlu diprioritaskan pula pemilihan tempat untuk pelaksanaan upacara perkawinan itu.Misalnya dimana tempat akad nikah, temu manten dan resepsinya. Apakah akan dilaksanakan dirumah, disebuah gedung pertemuan atau dihotel.
Dalam pelaksanaan perkawinan adat Jawa, pihak calon penganten wanita secara resmi adalah yang punya gawe,pihak pria membantu. Bagaimana pelaksanaan upacara perkawinan , apakah sederhana, sedang-sedang saja atau pesta besar yang mengundang banyak  tamu dan lengkap dengan hiburan, secara realitas itu tentu tergantung kepada anggaran yang tersedia. Pada saat ini kedua pihak sudah lebih terbuka membicarakan budget tersebut
a.1.2) Kesibukan dirumah calon penganten putrid
Yang lebih sibuk memang pihak orang tua calon penganten wanita. Hal-hal yang mesti dilakukan adalah :
§   Mengundang keluarga terdekat untuk membicarakan dan menyiapkan seluruh proses perkawinan. Secara tradisi dibentuk sebuah panitya yang terdiri dari anggota keluarga dan kenalan dekat dan masing-masing mempunyai tugas yang  jelas. Hal yang penting pula adalah penunjukkan pihak yang bertanggung jawab tentang konsumsi,  Catering mana yang akan ditunjuk. Penunjukkan  catering  berdasarkan pengalaman penting sekali, harus yang baik dan bertanggung jawab dan servisnya memuaskan. Pada masa kini, dengan pertimbangan praktis,ada keluarga yang punya hajat, menunjuk seluruh pelaksanaan upacara diserahkan kepada Event Organizer yang profesional. Mungkin penunjukan Event Organizer dimaksud supaya tidak merepotkan keluarga yang lain, ada baiknya. Tetapi perlu diingat bahwa  upacara perkawinan tradisional itu adalah juga sebuah acara untuk keluarga, menyangkut segi sosial, dimana  para tamu selain hadir untuk memberi selamat kepada kedua temanten , juga untuk mempererat persaudaraan dan persahabatan antara pihak pengundang dan yang diundang.Pada banyak kejadian,sebuah upacara perkawinan tradisional yang dikendalikan sepenuhnya oleh Event Organizer terasa kaku , meski mereka melaksanakan benar sesuai prosedur langkah-langkah yang dilaksanakan. Yang hilang dari upacara itu adalah “roh” dari upacara ritual tersebut. Oleh karena itu, beberapa pelestari budaya Jawa  yang mau mengerti “segi kepraktisan zaman “ berpendapat sebaiknya untuk pelaksanaan hal-hal inti, meski ada  Event Organizer, tetap  harus ada anggota keluarga yang terlibat. Bagaimanapun , keluarga yang punya gawe harus membentuk panitya kecil praktis yang mampu mengarahkan dan membantu dan kalau perlu meluruskan kerja para personil Event Organizer tersebut.
§   Pemasangan Bleketepe dan Tarub. Sehari sebelum upacara perkawinan, rumah orang tua mempelai wanita dipasangi tarub dan bleketepe dipintu masuk halaman depan. Dibuat gapura yang dihiasi tarub yang terdiri dari berbagai tuwuhan, yaitu tanaman dan dedaunan yang punya arti simbolis. Dikiri kanan gapura dipasang  pohon pisang yang sedang berbuah pisang yang telah matang. Artinya : Suami akan menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan bermasyarakat. Seperti pohon pisang  yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungan, keluarga baru ini juga  akan hidup bahagia, sejahtera dan rukun dengan lingkungan sekitarnya. Sepasang tebu wulung, pohon tebu yang berwarna kemerahan, merupakan simbol mantapnya kalbu, pasangan baru ini akan membina  dengan sepenuh hati keluarga mereka. Cengkir gading- kelapa kecil berwarna kuning, melambangkan kencangnya-kuatnya pikiran baik, sehingga pasangan ini dengan sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan bersama yang saling mencinta. Berbagai macam dedaunan segar seperti : beringin, mojokoro,alang-alang,dadap srep, merupakan harapan supaya pasangan ini hidup dan tumbuh  dalam keluarga yang selalu selamat dan sejahtera.
§   Anyaman daun kelapa yang dinamakan bekletepe digantungkan digapura depan rumah, ini dimaksudkan untuk mengusir segala  gangguan dan roh jahat dan sekaligus menjadi pertanda bahwa dirumah ini sedang dilakukan upacara perkawinan.
a.1.3) Sesaji khusus diadakan sebelum pemasangan tarub&bekletepe
 yang  terdiri dari:   nasi tumpeng, berbagai macam buah-buahan termasuk pisang dan kelapa, berbagai macam lauk pauk,kue-kue, minuman, bunga, jamu, tempe, daging kerbau, gula kelapa dan sebuah lentera.
Sesaji ini melambangkan permohonan supaya mendapatkan berkah dari Tuhan, Gusti dan restu dari para leluhur dan sekaligus sebagai sarana untuk menolak goda mahluk-mahluk halus jahat.
Sesaji ditempatkan dibeberapa tempat dimana prosesi upacara  perkawinan dilaksanakan seperti didapur, kamar mandi, pintu depan, dibawah tarub, dijalan dekat rumah dll.

a.1.4) Upacara-upacara sebelum pernikahan
·         Siraman
Siraman dari asal kata siram ,artinya mandi. Sehari sebelum pernikahan, kedua calon penganten disucikan dengan cara dimandikan yang disebut Upacara Siraman. Calon penganten putri dimandikan dirumah orang tuanya, demikian juga calon mempelai pria juga dimandikan dirumah orang tuanya. Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk Siraman :
1.      Persiapan tempat untuk siraman, apakah dilakukan dikamar mandi atau dihalaman  rumah belakang atau samping.
2.      Daftar orang-orang yang akan  ikut memandikan. Sesuai tradisi selain kedua orang tua temanten, eyang temanten , beberapa pinisepuh .  Yang diundang untuk ikut memandikan  adalah mereka yang sudah sepuh, sebaiknya sudah punya cucu dan punya reputasi kehidupan yang baik.
3.      Sejumlah barang yang diperlukan  seperti : tempat air, gayung, kursi, kembang setaman, kain, handuk, kendi dsb.
4.      Sesaji untuk siraman, ada lebih dari sepuluh macam, diantaranya adalah seekor ayam jago.
5.      Pihak keluarga penganten putri mengirimkankan sebaskom air kepada pihak keluarga penganten pria. Air itu disebut air suci perwitosari artinya sari kehidupan, yaitu air yang dicampur dengan beberapa macam bunga,yang ditaruh dalam wadah yang bagus , untuk dicampurkan  dengan air yang untuk memandikan penganten pria.                                         
6.      Pihak terakhir yang memandikan penganten adalah pemaes, yang menyirami calon penganten dangan air dari sebuah kendi. Ketika kendi telah kosong, pemaes atau seorang pinisepuh yang ditunjuk, membanting kendi dilantai sambil berkata : Wis pecah pamore artinya calon penganten yang cantik atau gagah sekarang sudah siap untuk kawin.                
7.      Upacara siraman selesai dan calon penganten  dengan memakai kain batik motif grompol dan ditutupi tubuhnya dengan kain batik motif nagasari, dituntun kembali keruang pelaminan.Calon temanten putri akan dikerik oleh pemaes.

·         Upacara Ngerik
Ngerik artinya rambut-rambut kecil diwajah calon pengantin wanita dengan hati-hati dikerik oleh pemaes.Rambut penganten putri dikeringkan kemudian diasapi dengan ratus/dupa wangi. Perias mulai merias calon penganten . Wajahnya dirias dan rambutnya digelung  sesuai dengan pola  upacara perkawinan yang telah ditentukan.
Sesudah selesai, penganten didandani dengan kebaya yang bagus yang telah disiapkan dan  kain batik motif sidomukti dan sidoasih, melambangkan dia akan hidup makmur dan dihormati oleh sesama.

Malam itu, ayah dan ibu calon mempelai putri memberikan suapan terakhir kepada putrinya, karena mulai besok, dia sudah berada dibawah tanggung jawab suaminya. Sesaji untuk ngerik sama dengan sesaji siraman. Jadi untuk praktisnya, seluruh sesaji siraman dibawa masuk kekamar pelaminan dan menjadi sesaji untuk ngerik.

·         Upacara Midodareni
Pada upacara midodareni yang  berlangsung dimalam hari sebelum Ijab dan Temu Manten/Panggih di keesokkan harinya, kedua orang tua calon mempelai pria beserta calon mempelai pria, diantar oleh keluarga dekatnya, berkunjung kerumah orang tua calon mempelai putri. Calon mempelai putri setelah dirias dikamar pelaminan, nampak cantik sekali bagai widodari, bidadari, dewi dari kahyangan.
Sesuai kepercayaan kuno, malam itu mempelai putri ditemani oleh beberapa dewi cantik dari kahyangan. Malam itu dia harus tinggal dikamar dan tidak boleh tidur dari jam 6/enam sore sampai tengah malam.Beberapa ibu sepuh menemani dan memberikan nasihat-nasihat berharga.
Keluarga calon mempelai pria yang wanita, yang datang dimalam midodareni, boleh menengok calon mempelai wanita yang sudah didandani cantik, siap untuk nikah esok harinya.
Sesuai adat, dikamar pelaminan ada sesaji khusus untuk upacara midodareni, ada sebelas macam makanan dan barang; selain itu ada tujuh macam barang yang lain .
·         Upacara diluar kamar pelaminan
Dimalam midodareni, orang tua dan keluarga calon penganten putri, menerima kunjungan dari orang tua dan keluarga dari calon penganten pria. Mereka duduk didalam rumah, saling berkenalan dan bersantap bersama. Calon penganten pria juga datang, tetapi dia tidak boleh masuk rumah dan hanya boleh duduk diserambi depan rumah. Diapun hanya disuguhi segelas air minum, tidak boleh makan atau minum yang lain.Ini konon untuk melatih kesabaran seorang suami dan kepala keluarga,

·         Srah-srahan atau Peningsetan
Dalam upacara midodareni, bisa dilakukan srah-srahan atau peningsetan.( Pada zaman dulu, peningsetan dilakukan sebelum malam midodareni).  Orang tua dan keluarga calon penganten pria memberikan beberapa barang kepada orang tua calon penganten wanita.
Peningsetan dari kata singset, artinya mengikat erat, dalam hal ini terjadinya komitmen  akan sebuah perkawinan antara putra putri kedua pihak  dan para orang tua penganten akan menjadi besan.
Pemberian itu berupa : Satu set suruh ayu sebagai perlambang  harapan tulus  supaya mendapatkan keselamatan. Seperangkat pakaian untuk penganten wanita , termasuk beberapa kain batik dengan motif yang melambangkan kebahagiaan hidup. Tidak boleh ketinggalan sebuah stagen, ikat pinggang kain putih  yang besar dan panjang, sebagai pertanda kuatnya  tekad. Beberapa hasil bumi antara lain beras, gula, garam, minyak goreng, buah-buahan dlsb sebagai pralambang hidup kecukupan dan sejahtera bagi keluarga baru.
Sepasang cincin kawin untuk kedua mempelai. Pada kesempatan ini, pihak calon mempelai pria menyerahkan sejumlah uang, sebagai sumbangan untuk pelaksanaan upacara perkawinan.Ini hanya formalitas belaka, karena urunan uang sudah diberikan jauh hari sebelumnya.
Sesudah bersantap bersama dan saling berkenalan, seluruh keluarga rombongan orang tua  temanten pria berpamitan untuk pulang. Mereka perlu mempersiapkan diri untuk besok yaitu pelaksanaan  upacara perkawinan yang penting termasuk pernikahan secara agama, Upacara adat temu manten  dsb.
Catatan : Menurut adat perkawinan Surakarta, sewaktu rombongan tamu berpamitan pulang, pihak tuan rumah memberikan angsul-angsulan , berupa  buah-buahan, kue-kue dan seperangkat pakaian temanten pria yang akan dipakai besok. Pada adat perkawinan gaya Yogyakarta, tidak ada angsul-angsulan.

·        Nyantri
Sewaktu rombongan keluarga temanten pria pulang dari upacara midodareni, calon penganten pria juga ikut diajak pulang.Tetapi, bila calon mempelai pria nyantri, maka dia ditinggal dirumah calon mertuanya.Tentu nyantri sebelumnya sudah dibicarakan dan disetujui kedua pihak. Begini tata caranya : Orang tua calon mempelai pria melalui  jurubicara keluarga mengatakan kepada orang tua calon mempelai wanita, bahwa calon mempelai pria tidak diajak pulang dan menyerahkan tanggung jawab kepada orang tua calon mempelai putri.
Setelah keluarganya pulang, ditengah malam dia dipersilahkan masuk rumah untuk makan, tidak boleh ketemu calon istrinya dan sesudah itu diantar kekamar  tidur  untuk beristirahat. Nyantri dilaksanakan untuk segi praktisnya, mengingat besok pagi dia sudah harus didandani untuk pelaksanaan ijab kabul/pernikahan. Juga untuk keamanan pernikahan, kedua calon mempelai sudah berada disatu tempat

·     Pelaksanaan Ijab
Ijab adalah hal paling penting untuk melegalisir sebuah perkawinan. Ijab atau perkawinan  dilaksanakan sesuai dengan agama yang dianut kedua penganten, bisa Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu.
Kini, warga Penghayat  Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, perkawinannya juga diakui sah oleh negara sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006  tentang Administrasi Kependudukan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 Tentang  Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang  Administrasi Kependudukan.
Persiapan untuk pernikahan/ Ijab, harus benar-benar cermat, supaya lancar dan aman.
Sesudah Ijab selesai, artinya  temanten sudah sah sebagai suami istri. Tentu hati rasanya “plong”, orang tua dan keluarga kedua pihak juga lega.
·        Upacara Panggih atau  Temu Penganten.
Secara tradisional Upacara Panggih atau Temu Penganten dilaksanakan dirumah orang tua penganten putri. Pada saat yang telah ditentukan, penganten pria diantar oleh saudara-saudaranya  kecuali kedua orang tuanya yang tidak boleh hadir dalam upacara ini, tiba didepan rumah pengantin putri dan berhenti didepan pintu rumah. Sementara itu, pengantin wanita  dengan dikawal saudara-saudaranya dan diikuti kedua orang tuanya, menyongsong kedatangan rombongan pengantin pria dan berhenti dipintu rumah depan. Didepan pengantin wanita, dua gadis kecil yang disebut patah  membawa kipas. Dua anak laki-laki muda atau dua orang ibu, masing-masing membawa sebuah rangkaian bunga khusus yang namanya kembar mayang.Seorang ibu pengiring pengantin pria maju dan memberikan Sanggan kepada ibu pengantin putri sebagai tanda penghormatan untuk penyelenggaraan upacara perkawinan. Sanggan itu berupa buah pisang yang dibungkus rapi dengan daun pisang dan ditaruh diatas nampan.
Pada waktu upacara panggih, kembar mayang dibawa keluar rumah dan dibuang diperempatan jalan dekat rumah atau didekat berlangsungnya upacara perkawinan, maksudnya supaya upacara  berjalan selamat dan tidak ada gangguan apapun dan dari pihak manapun.
·        Balangan suruh
Kedua penganten bertemu dan berhadapan langsung pada jarak sekitar dua atau tiga meter, keduanya berhenti dan dengan sigap saling melempar ikatan daun sirih yang diisi dengan kapur sirih dan diikat dengan benang. Ini yang disebut ritual balangan suruh.
Kedua penganten dengan sungguh-sungguh saling melempar  sambil tersenyum, diiringi  kegembiraan semua pihak yang menyaksikan. Menurut kepercayaan kuno, daun sirih punya daya  untuk mengusir roh jahat. Sehingga dengan saling melempar daun sirih, kedua pengantin adalah benar-benar pengantin sejati, bukan Ritual Wiji Dadi Penganten pria menginjak sebuah telur ayam  kampung hingga pecah dengan telapak kaki kanannya, kemudian kaki  tersebut dibasuh oleh penganten putri dengan air kembang.

Pralambang nya : rumah tangga yang dipimpin seorang suami yang bertanggung jawab  dengan istri yang baik, tentu menghasilkan hal yang baik pula termasuk anak keturunan.
Ritual memecah telur ini ada versi lain dari Yogyakarta, pelaksanaannya sebagai berikut : Pengantin pria dan wanita berdiri  berhadapan tepat. Telapak kaki kanan mempelai pria dibasuh dengan air kembang oleh mempelai putri dengan sikap jongkok. Perias temanten sebagai pembimbing  upacara, memegang telur ayam kampung itu ditangan kanannya.Ujung telur tersebut oleh perias ditempelkan pada  dahi pengantin pria dan kemudian pada dahi pengantin wanita.Kemudian telur itu dipecah oleh perias diatas tumpukan bunga yang berada diantara kedua pengantin Ini penggambaran kedua pengantin sudah mantap dalam satu pikiran, sadar saling kasih  membina rumah tangga yang  bahagia sejahtera dan menghasilkan anak keturunan yang  baik-baik

·        Ritual Kacar Kucur atau Tampa Kaya.
Sepasang pengantin  dengan bergandengan  dengan jari kecilnya berjalan menuju depan krobongan, tempat dimana upacara tampa kaya diadakan.Upacara kacar kucur ini menggambarkan : suami memberikan seluruh penghasilannya kepada istri. Dalam ritual ini suami memberikan kepada istri : kacang, kedelai, beras, jagung, nasi kuning, dlingo bengle, beberapa macam bunga dan uang logam dengan jumlah genap.Istri menerima dengan segenap hati dengan selembar kain putih yang ditaruh diatas selembar tikar tua yang diletakkan diatas pangkuannya. Artinya istri akan menjadi  ibu rumah tangga yang baik dan berhati-hati.
Catatan : Pada masa dulu, ritual tampa kaya , dhahar kembul dll, memang dilakukan didepan krobongan yang ada disenthong tengah ( Ruang tengah rumah kuno yang biasa dipakai untuk melakukan sesaji). Pada masa kini, ritual tersebut tetap diadakan meskipun upacara perkawinan diadakan digedung pertemuan atau hotel. Dekorasi dibelakang kursi temanten adalah ukiran kayu yang berbentuk krobongan. Ini untuk mengikuti perkembangan zaman dan sekaligus tetap melestarikan tradisi.
·           Ritual Dhahar Klimah atau  Dhahar Kembul
Dengan disaksikan orang tua pengantin putri dan kerabat dekat, sepasang pengantin makan bersama, saling menyuapi. Mempelai pria membuat tiga kepal nasi kuning dengan lauknya berupa telor goreng,tempe, kedelai, abon, ati ayam. Lalu ia menyuapkan kepada istrinya, sesudah itu ganti sang istri menyuapi suaminya, diakhiri dengan minum teh manis bersama. Ini melambangkan bahwa mulai saat ini keduanya akan mempergunakan dan menikmati bersama  apa yang mereka punyai.
·           Mertui atau Mapag Besan
Kedua orang tua pengantin putri menjemput kedua orang tua pengantin pria didepan rumah ( untuk perkawinan digedung menjemputnya didepan ruangan tempat berlangsungnya acara ritual) dan mempersilahkan  mereka masuk rumah/ ruangan tempat upacara, selanjutnya mereka berjalan bersama menuju ketempat upacara. Ibu-ibu berjalan didepan, bapak-bapak mengiringi dari belakang. Kedua orang tua pengantin pria didudukkan  sebelah kiri pengantin, orang tua pengantin putri duduk disebelah kanan penganten.
·           Upacara Sungkeman
Sepasang pengantin melakukan  sungkem kepada kedua belah pihak orang tua. Mula-mula kepada orang tua pengantin wanita kemudian kepada orang tua pengantin pria. Sungkem adalah merupakan bentuk penghormatan tulus kepada orang tua dan pinisepuh.
Pada waktu sungkem ( menghormat dengan posisi jongkok , kedua telapak tangan menyembah dan mencium lutut yang di-sungkemi), keris yang dipakai pengantin pria dilepas dulu dan dipegangi oleh perias, sesudah selesai sungkem , keris dikenakan kembali.
Orang tua dengan haru menerima penghormatan berupa sungkem dari putra putrinya dan pada waktu yang bersamaan juga memberikan restunya supaya  keduanya menempuh hidup rukun, sejahtera. Tanpa mengucapkan kata-kata itu, sebenarnya para orang tua pengantin sudah memberikan restu yang dilambangkan dari kain batik yang dikenakan yang polanya truntum , artinya punyailah rejeki yang cukup selama hidup. Kedua orang tua juga menggunakan ikat pinggang besar  yang namanya sindhur dengan pola gambar dengan garis yang melekuk-lekuk, artinya orang tua mewanti-wanti kedua anaknya supaya selalu bertindak hati-hati, bijak dalam menjalani kehidupan nyata didunia ini.
·           Ritual lain
Upacara-upacara diatas adalah  tradisi yang berlaku di Yogyakarta, didaerah Surakarta dan lainnya masih ada tambahan ritual yang lain.
·        Sindhur Binayang

Sesudah ritual Wiji Dadi, ayah pengantin putri berjalan didepan kedua temanten menuju ke kursi pengantin didepan krobongan, sedangkan ibu pengantin putri berjalan dibelakang kedua temanten, sambil menutupi pundak kedua pengantin dengan kain sindhur. Ini melambangkan,sang ayah menunjukkan jalan menuju ke kebahagiaan ,sang ibu mendukung.

·        Timbang

Kedua penganten bersama-sama duduk dipangkuan ayahanda pengantin putri. Sesudah menimbang-nimbang sejenak, ayahanda berkata : Sama beratnya, artinya ayah mencintai keduanya , sama ,    
tidak dibedakan.

·           Tanem

Selanjutnya, ayah mendudukkan sepasang pengantin dikursi mahligai perkawinan.Itu untuk memperkuat  persetujuannya terhadap perkawinan itu dan memberikan restunya.
·        Bubak zawah

Ayah pengantin putri, sesudah upacara Panggih, minum rujak degan/ kelapa muda didepan krobongan. Istrinya bertanya :  Bagaimana Pak rasanya? Dijawab :  Wah segar sekali, semoga orang serumah juga segar. Lalu istrinya ikut mencicipi minuman tersebut sedikit dari gelas yang sama, diikuti anak menantu dan terakhir pengantin wanita. Ini merupakan perlambang permohonan supaya pengantin segera dikaruniai keturunan.

·        Tumplak Punjen

Ritual ini dilakukan oleh orang tua yang mengawinkan putrinya untuk terakhir kali. Tumplak artinya menuang atau memberikan semua, punjen adalah harta orang tua yang telah dikumpulkan sejak mereka berumah tangga.
Dalam ritual ini, orang tua yang berbahagia, didepan krobongan, memberikan miliknya( punjen) kepada semua anak-anak dan keturunannya. Secara simbolis kepada masing-masing diberikan sebuah bungkusan kecil yang berisi bumbu-bumbu,nasi kuning,uang logam dari emas, perunggu dan tembaga dll.Dengan mengadakan tumplak punjen, orang tua ingin memberi teladan kepada anak keturunannya,bahwa mereka sudah purna tugas dan  supaya generasi penerus selalu menyukuri karunia Tuhan dan mampu melaksanakan tugas hidupnya dengan baik dan benar.
·           Tukar Kalpika

Pengantin melakukan tukar cincin sebagai tanda kasih dan keterikatan suami istri yang sah.

·           Resepsi Perkawinan
Sesudah seluruh rangkaian upacara perkawinan selesai, dilakukan resepsi, dimana kedua temanten baru, dengan diapit kedua belah pihak orang tua, menerima ucapan selamat dari para tamu.Dalam acara resepsi, hadirin dipersilahkan menyantap hidangan yang sudah disediakan, sambil beramah tamah dengan kerabat dan kenalan. Ada kalanya,  sebelum resepsi  dimulai, diadakan pementasan fragmen  tari Jawa klasik yang sesuai untuk perkawinan seperti fragmen Pergiwo Gatotkaca atau  tari Karonsih, yang melukiskan hubungan cinta kasih wanita dan pria.
a.2) Upacara Perkawinan Adat Bali
Dalam ajaran Hindu terdapat empat tahap dalam mencapai tujuan hidup, adapun tujuan hidup tersebut dinamakan Catur Purusa Artha terdiri dari Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Dalam pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.Sementara dalam Perkawinan  adalah bentuk perujudan dari suatu usaha untuk mencapai tujuan hidup. Dalam lontar Agastya Parwa disebutkan "Yatha sakti Kayika Dharma" ini bermakna dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma.Upacara perkawinan pada hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri. Sedangkan pengertian perkawinaan sendiri adalah jalinan ikatan secara lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk suatu keluarga yang bahagia dan abadi selamanya hingga akhir usia. Bila seseorang sudah berniat melakukan perkawinan, diharapkan sudah mereka sudah siap lahir dan batin dalam menempuk bahtera rumah tangga kelak.Dalam perkawinan  umat Hindu di Bali, ada dua tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas yaitu mewujudkan artha dan kama yang berdasarkan Dharma.
Sebelum seseorang memasuki jenjang perkawinan dibutuhkan suatu bimbingan, nasehat dan wejangan agar dalam pelaksaanaannya nanti tidak mengalami kendala, masalah yang mungkin akan timbul dalam mengarui biduk bahtera rumah tangga, bimbingan ini diberikan dari orang yang mengerti dan ahli dalam bidang agama Hindu, orang  yang mengerti agama ini akan menerangkan apa yang menjadi tugas dan kewajiban  bagi orang yang telah terikat dalam pernikahan sehinggabisa mandiri di dalam mewujudkan tujuan hidup mendapatkan artha dan kama berdasarkan Dharma.Lalu dilanjutkan dengan proses penyucian diri yang bertujuan memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya (umat Hindu di Bali percaya leluhur yang sudah meninggal dapat berenkarnasi dalam perujudan anak cucu kembali) untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia. Melahirkan anak lewat perkawinan mengasuh, membimbing, memeliharanya dan mendidik dengan penuh kasih sayang sesungguhnya suatu yadnya kepada leluhur. Terlebih lagi kalau anak tersebut dapat menjadi manusia yang sempurna, akan merupakan suatu perbuatan melebihi seratus yadnya, demikian disebutkan dalam Slokantara.
Perkawinan bagi umat Hindu merupakan sesuatu yang suci dan sakral. Saat itu perkawinan layak atau tidak nya ditentukan oleh seorang Resi, dimana sang Resi (Bramana Sista) ini mampu melihat lewat mata batin cocok tidaknya dari pasanngan yang akan dinikahkan, bila tidak cocok atau jodoh akan dibatalkan karena bisa berakibat buruk bagi kehidupan rumah tangga mereka nanti. Namun seiring masa berganti dan pertimbangan duniawi lebih mempengaruhi orang tua dalam memilih jodoh untuk anak anak mereka dan bukan lagi nilai budi pekerti yang di junjung tinggi. Pernikahan adat Bali menggunakan sistem patriarki  yaitu semua tahapan dan proses pernikahan dilakukan di rumah mempelai pria.
Menurut UU perkawinan no 1 thn 1974, sah tidaknya suatu perkawinan adalah sesuai menurut  hukum dan agama masing masing.
Proses upacara adat pernikahan di Bali  disebut “ Mekala-kalaan (natab banten). Pelaksaan upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang diadakan di halaman rumah sebagai titik sentral kekuatan Kala Bhucari yang dipercaya sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan.Makalan-kalaan sendiri berasal dari kata Kala yang mengandung pengertian energi. Upacara mekala-kalaan ini mempunyai maksud untuk menetralisir kekuatan kala/energi yang bersifat buruk/negatif dan berubah menjadi positif/baik.Adapun maksud dari upacara ini adalah sebagai pengesahan perkawinan antara kedua mempelai dan sekaligus penyucian benih yang terkandung di dalam diri kedua mempelai.
a.2.1) Peralatan Mekala-kalaan dan symbol upacara adat perkawinan Bali

·            Sanggah Surya/bambu melekungmerupakan niyasa (simbol) istana Sang Hyang Widhi Wasa, ini merupakan istananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi beremsimbol kekuatan prakertinya Sang Hyang Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih dewi kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.
·            Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg)simbol calon pengantin yang diletakkan     sebagai alas upacara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.
·            Tikeh Dadakan (tikar kecil)Tikar yang diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikar adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni).
·            Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria.
·            Benang Putihdibuatkan sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dariBrahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama.
·             Tegen – tegenanMakna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Adapun Perangkat tegen-tegenan ini :
1.         Batang tebu berarti hidup pengantin mengandung arti  kehidup dijalani secara bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas, secara manis.
2.         Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma.
3.         Periuk simbol windhu.
4.         Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi).
5.         Seekor yuyu/kepiting simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.
·            Suwun-suwunan(sarana jinjingan)Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.
·            Dagang-daganganmelambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.
·            Sapu lidi (3 lebih). Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna berdasarkan ucapan baik, prilaku yang baik dan pikiran yang baik, disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga.
·            Sambuk Kupakan (serabut kelapa). Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian.Telor bebek simbol manik. Kedua Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Ini mengandung pengertian Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri, agar kekuatan triguna dapat terkendali. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.
·            Tetimpugadalah bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.
a.2.2)  Rangkaian upacara
·           Upacara Ngekeb:
Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga dengan memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.
Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk keramas.
Sesudah acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat bali akan dilanjutkan dengan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.
·           Mungkah Lawang (Buka Pintu):
Seorang utusan Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak tiga kali sambil diiringi olehseorang Malat yang menyanyikan tembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera dibukakan pintu.
·        Upacara Mesegehagung:
Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita, kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng

·        Madengen–dengen:
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian
·           Mewidhi Widana:
Dengan memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara acara sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan
·           Mejauman Ngabe Tipat Bantal:
Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan/menerima tamu. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang, bermacam buah–buahan serta lauk pauk khas Bali.

C.    PENGAWASAN KEHAMILAN SECARA TRADISIONAL
        Dengan berpegang teguh pada konsep bahwa kehamilan bukan semata-mata proses biologis ,tapi jauh dari pada itu adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa ,pengawasan hamil pun dilaksanakan berdasarkan keyakinan itu. Seperti di ketahui bahwa sebagian besar pengawasan hamil ,persalinan ,pengawasan pasc partum masih tatap dilakukan oleh “dukun anak atau paraji”. Dengan demikian landasan pasrah terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tidak dapat di tinggalkan dengan melakukan tindakan ritual yang sesuai dengan  daerah suku bangsa di setiap daerah. Di antara ritual yang penting dan masih di lakukan antara lain sebagai berikut .
a)      Upacara Melewati Kritis Tiga Bulan
Keguguran paling sering terjadi pada bulan ketiga ,sehingga bila dapat melawatinya duperlukan syukuran sesuai dengan daerahnya.
Di jawa barat  terdapat Mangrupa (melewati krisis tiga bulan ) ,Usik (karena telah di rasakannya gerakan janin dalm perut ibunya), jawa umunya terdapat Catur Hangga Jati (bentuk tubuh janin makin nyata dan akan terus berkembang) dan Panca Yitma Jati (mulai di rasakan gerakan janin pada perut ibunya). Di bali terdssapat Pumsawana (upacara terbentuk bayi bergerak ).
Menurut konsep embriologi Islam , sejak saat ini ruh diembusakn oleh “malaikat deengan sambilmeniliskan empat ketetapan nasib manusia sebelum lahirnya yang di tandai dengan terjai gerak pertama yang di rasakan ibu ketika kehidupan di mulai. Dalam ilmu obstetric modern  tidak salah untuk melakukan ungkapan syukur karena krisis pertama (tiga bulan) telah di lampaui dan mulai di rasakan gerakan pada perut ibu.
b)     Upacara Melampaui Krisis  Kehamilan Tijuh Bulan
Upacara kehamilan tujuh bulan masih sering di lakukan masyarakat  sebagai ungkapan  terimakasih dan syukur  karena telah melewati krisis kehamilan dan keluarga telah siap menyongsong kelahiran dari si jabang bayi. Bila diperhatikan penanggalan bayi yang berumur 35 hari di Jawa dan Bali , upacara syukuran tujuh bulan berarti umur bayi dalam kandungan telah mencapai 35 minggu  atau 245 hari . seandenya terjadi proses kelahiran setelah upacara , bayi telah mampu hidup di luar kandungan.
        Upacara di Jawa di sebut “ mitoni” sedang di Bali di sebut “megedong –gedongan.
c)      Peranan  paraji atau dukun beranak
Di samping  pengawasan kehamilan secara ritual oleh paraji , mereka juga dapat menjadi penasehat untuk  hamil dan keluarganya dan siap untuk di panggil. Paraji atau  dukun beranak baik sebagai penasehat kejiwaan ibu hamil khususnya keluarga baru dan sebagai penasehat  tentang makanan  yang boleh di konsumsi dan tidak . tujuannya agar kehamilan , persalinan serta kesehatan setelah persalinan dapat berlangsung dengan baik. Peranan paraji atau dukun beranak di jabarkan sebagi berikut.
1.1)    Peran sebagai penasehat tentang kejiwaan
Nasehat yang di berikan paraji atau dukun dalam hal kejiwaan ibu hamil dan keluarga meliputi
(a)   Suami-suami di nasehati untuk menjaga perilaku kehidupan rumah tangganya agar sehingga tidak menggoncangkan kejiwaan sehingga tumbuh  kembangnya janin dalam kandungan berlangsung dengan baik.
(b)   Dianjurkan untuk melihat segala sesuatu yang baik, sehingga tumbuh kenbang janin dan bayinya berkembang dengan baik.
(c)    Dianjurkan untuk membaca cerita tentang keindahan, kepahlawanan , sehingga janin dan bayinya akan menjadi suka membaca.
(d)   Dilarang untuk melihat hal-hal yang buruk , missal memotong ayam .
(e)    Bila menjumpai haal-hal yang dapat mengejutkan, khususnya ibu dari suku jawa akan menyebutkan “amit-amit jabang bayi”, sammbil mengelus  perutnya 3 kali, diharapkan tidak ada pengaruh  terhadap tumbuh kembang janin dalam rahim.
(f)    Diharapkan agar suami ikut berperan baik dan menganggap bayinya sudah dapat diajak bicara, karena itu bila akan pergi dianjurkan berpamitan atau bila pulang membawa oleh-oleh.
(g)   Suami tidak diperbolehkan melakukan hubungan seks setelah kehamilan berumur sekitar 7 bulan.
(h)   Ketika istri berpergian dan melangkan kaki melampui pintu mrngucapkan “among-omonge si jabang bayi”.
(i)     Nasehat itu mencerminkan bahwa keadaan baik atau buruk dapat mempengaruhi  tumbuh kembang kejiwaan janin.
1.2)               Peran sebagai penasehat tentang makanan saat hamil Paraji atau dukun beranak serang mengasosiasikan makanan tertentu yang di anggap dapat mengganggu tumbuh kembang janin dalam rahim dan proses persalinan . sebagi contoh makanan yang di sebutkan.
(a)   Ibu tidak diperbolehkan makn nanas terutama nanas muda yang di anggap dapat menimbulkan gugur kandungan atau persalinan muda.
(b)   Ibu di larang makan kerak nasi karena dapat menyulitkan persalinan plasenta.
(c)    Ibu tidak di benarkan makan jantung pisang, karena di anggap dapat  melahirkan bayi berwarna hitam.
(d)    Ibu tidak boleh makan pisang yang dempet karena di asosiasikan dapat melahirkan bayi dempet.
(e)    Ibu dilarang makan hati, karena bayinya dapat menjadi kerdil dan bodoh.
(f)    Ibu dilarang makn telur karena bayinya dapat penyakit bisulan.
(g)   Ibu dilarang makan ikat laut dan darat karena ASInya dapat menjadi asin rasanya dan di tolak bayinya.
Ibu dianjurkan untuk minum air dan isi kelapa muda agar kulit bayi bersih, dan tidak banyak  verniks kaseosanya saat dilahirkan. Bagaiman  penjelasan memang sulit diterangkan.
        Jika disimak secara keseluruhan, yang dianjurkan pada ibu hamil  adalah makanan yang mengarah pada “vegetarian”. Dengan makanan vegetarian , sifat0sifat kebinatangan akan menjadi sirna, sehingga pertumbuhan kejiwaan janin menjadi lebih tenang, berbudi luhur, dan tawakal. Prinsip ini berbeda dengankonsep mkanan menurut obstreti modern.
d. proses Persalinan Secara Tradisional
        Dalam literature kuno tidak banyak di jumpai tentang proses persalinan kecuali dalam atharwa Weda yang intinya :
(1)    Mengharapkan agar proses persalinan berjalan lancar .
(2)   Saya menguak kantong bayi (yoni), memisahkan bayi dari ibunya, semoga bayi terpisah dari ari-arinya dan lancar keluar.
(3)   Bahwa proses persalinan sulit di perkirakan, sehingga bila terjadi masalah itu merupakan nasib yang bersangkutan.
Di bali di umpamakan bahwa proses persalinan ibu laksana tergantung pada sehelai rambut, artinya setiap saat dapat terancam oleh bahaya yang mun gkin saja merenggut jiwanya. Bagi dukun beranak atau paraji yang akan melaksanakan tugasnya, selalu memohon petunjuk yang maha kuasa sehingga proses pertolongan persalinannya dapat berjalan lancar.
Dalam menghadi proses persalinan terdapat dua hal penting yang perlu mendapat perhatian yaitu memotong tali pusat dan menanam plasenta (ari-ari) yang dapat dijabarkan sebagai berikut.
¨      Memotong tali pusat
Teknik memotong tali pusat sangat cermelang oleh karena dasar seterilitas telah di terapkan sebagai berikut:
Ø  Menggunakan sembilu yang dibuat dari bambu untuk memotongnya
Ø  Dalam menjamin seterilitasnya mata sembilu di iriskan terlebih dahulu pada kunyit (yang mengandung iodium). Selanjutnya kuyit tali pusat di potong dan di ikat dengan benang.
Ø  Tali pusat dibungkus dengan semacam rempah-rempah, sehingga kering dan cepat lepas dari perut bayinya.
Ø  Tali pusat di keringkan dengan abu.
Ø  Setelah tali pusat lepas disimpan atau di gantungkan pada leher bayi. Penggantungan pada leher sebagai simbul bahwa bayi masih ada hubungan dengan empat saudaranya itu. Dengan teknik demikian diharapkan tidak akan terjadi infeksi melalui jalur tali pusat menuju bayinya.
¨      Perawatan plasenta
        Sikap suku bangsa di Indonesia terhadap plasenta (ari-ari) cukup baik yaitu menberi semacam penghormatan karena jasanya melindungi janin sampei saat berlangsung proses persalinan.plasenta mewakili tiga lainya yaitu air ketuban, tali pusat, dan darah retroplasenter. Perawatan plasenta ditugaskan kepada suami yang mempersiapkan diri dengan jalan mandi dan berpakaian yang bersih dan baik.
  Sebuah buah lubang dibuat dengan dalam secukupnya, sehingga keberadaan ari-ari tidak diganggu oleh binatang. Tempat ari-ari sebelum dan saat menanam dapat dipergunakan kendil dari tanah atau kelapa yang telah dibelah dua ada juga yang menggunakan lemper. Pada saat menanam kendil,lemper atau batok kelapa di isi garam atau rempah0rempah sehingga cepat kering dan tidak berbau, di isi lontar, pensil yang menginginkan agar anaknya menjadi pandai, di bungkus dengan kain putih, di atasnya di beri batu pemberat sehingga tidak di gali oleh binatang , di beri semacam sesajaen  dan lilin yang tetap menyala selama 42 atau 45 hari. Oleh karena dianggap ada hubungan dengan bayi , setiap hari ari-ari itu diberi ASI juga sebagai personifikasi bahwa ari-ari ikut minum ASI.
Secara simbolik mperawatan ari-ari sebagai saudaranya bayi mendapat perhatian di Indonesia. Arti simbolik yang di cermikan diantaranya dengan tidak menanamnya sehingga rezekinya tidak sulit dan selama masa puerperium, ari-ari mendapatkan pemeliharaan yang baik, seolah-olh masih ada hubungan dengan bayinya. Apa saja yang di berikan pada bayi , ari-ari juga akan mendapatkannya. Di Bugis,di tempat ari-ari ditanam pula pohon kelapa  (pohon serba guna). Di Bali, bila menanam ari-ari di sebelah kanan pintu kamar berarti bayinya laki-laki, sedangkan bila di kiri berarti perempuan sebagai simbul agar anaknya serba mampu mengarungi hidup.
e)      Pengawasan pasca partum secara tradisional
Setelah kelahiran bayi, masalah perawatan pasca partum lebih banyak di tujukan untuk mempercepat pemulihan kesehatan ibunya dan persiapan untuk dapat memberi  ASI  berkelanjutan. Pada perawatan pasca partum di jawa sering di beri jamu dengan tujuan mempercepat pulihny akesehatan, memperlancar pengeluaran lokia dan kebersihanya,mempercepat dan pengeluarkan ASI. Untuk mencapai sasaran tersebut telah di siapkan jamu-jamu khusus.
Sesuai konsep obstetri modern, early mobilization mungkin perlu di anut, karena di Surabaya pernah terjadi ibu pasca partum yang di harusakan tidak terlentang selama 40 hari, sehingga kedua labiumnya menjadi melekat.
f)       Perawatan bayi baru lahir
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat syukuran dengan upacara ritual karena kelahiran bayi yang di dambakan. Serentetan upacara ritual di laksanakan dengan tujuan agar keselamatan bayi dapat berlangsung dengan baik. Perhatian perlu di berikan pada saat bayi berumur 6 bulan melakukan kontak tanah untuk pertama kalinya. Upacara itu cukup besar, karena mulai saat ini, bayi sudah mendaoatkan kekuatan dari alam, khususnya tanah. Bila di analokkan  anak modern, umur 6 bulan sudah menipis anti bodynya yang di bawa sejak dalam kandungan, sehingga bayi hrus dapat membentuk sendiri anti body untuk pertahanan penyakit dari luar tubunya. Oleh karena itu bayi harus mulai kontak dengan tanah, sehingga mendapatkan anti gen yang akan merangsang tumbuh kembang anti body sebagai pertahanan tubuhnya. Di Jawa peristiwa ini di sebut “tedhak siten” dan di Bali “turun tanah”.
D.   GAMBARAN ASPEK REPRODUKSI DALAM CERITA MAHABARATA
Dalam cerita mahabarata di gambarkan sebagai aspek reproduksi yang menjadi kenyataan saat ini dan sebagian masih merupaakn impian IpTekDok untuk dapat mencapainya. Beberapa aspek reproduksi yang di kaitkan denga  cerita mahabarata tersebut di uraikan  berikut ini.
Pembunuhan bayi baru lahir
Raja pratipa sedang bertapa di tepi sungai gangga dan di datangi dewi gangga yang duduk dip aha kanannya untuk meminta raja menjadi suaminya. Raja pratipa menolak karena dewi gangga duduk dipaha kanannya yang seharusnya tempat untuk menantunya. Raja pratipa mengharapkan agar dewi gangga bersedia menjadi menantunya setelah outranya lahir.
Setelah putra raja pratipa sentanu dewasa dan kebetulan berada di tepi sunggai gangga, dewi gangga dating dengan kecantikannya yang luar biasa. Putra mahkota sentanu,bertemu dengan dewi gangga dan memintanya untuk menjadi istrinya. Dewi gangga setuju dengan syarat yaitu tidak berbicara keras kepadanya selama menjadi suaminya dan tidak melarang apapun yang di perbuatnya. Selama sarat itu di penuhi, raja sentanu akan mendapatkan kebahagiaannya.
Dalam kurun waktu tertentu, dewi gangga telah melahirkan  purta seabanyak 7 kali tetapi semuanya di buang di sungai gangga sampai tewas. Saat putranya yang ke-8 lahir dan akan di buang kesungai gangga, raja sentanu menegurnya sehingga perkawinanya mengalami kegagalan. Dewi gangga masih besedia untuk memelihara putra raja sentanu hingga dewasa yang memiliki kemahiran Veda dan berperang yang tangguh. Membuang bayi saat ini sudah bukan hal baru karena sejak zaman maha barata telah di jumpai.


















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Dari pembahasan  di muka dapat di simpulkan :
1.      Bangsa Indonesia seharusnya bangga karena mempunyai kebudayaan asli yang dapat di kaitkan  dan mendukung konsepm reproduksi . kebudayaan yang sangat erat kaitanya adalah ruwatan wayang yang selalu di ikuti gamelan.
2.      Proses perkawinan adlalah proses sakral yang bertujuan dapat menurunkan “keturunan” yang baik, berbudi luhur, tagwa kepada tuhan Yang Maha Esa.
3.      Dalam upeya mendapatkan keturunan  hubungan seksual harus di sesuaikan dengan doa,sehungga keturunan yang di idamkan tercapai. Larangan untuk melakukan hubungan seksual sembarangan bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan melaksanakan  konsep keluarga berencana.
4.      Pengawasan selama kehamilan , persalinan,  dan pengawasan pasca partum  masih di dominasi oleh dukun, sehingga dapat di paastikan dukun beranak atau paraji  selalu berorientasi pada permohonan untuk keselamatan ibu dan bayinya melalui upacara ritual yang masih di laksanakan  oleh masyarakat Indonesia. Melakukan permohonan untuk keselamatan  ibu dan bayinya , sangat tepat karena Negara kita  berdasarkan pancasila. Dalam pengawasan hamil, dua upacara ritual yang masih dapat dilaksanakan  adalah upacara  setelah 4 bulan    ( catur hangga jari atau panca yitma jati , mitoni atau megedong-gedongan), upacara ritual pada ibu pasca partum yiatu upacara  selesainya masa puerperium (selapan atau kambuhan) , upacara khusus untuk bayinya  saat turun tanah (tedhak siten atau turun tanah).
5.      Dalam mahabrata telah di gambarkan berbagai kejadian  dalam aspek reproduksi yang kini menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari seperti kasus membuang bayi.







Daftar Pustaka
Menuaba, IBG.(2006). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.Jakarta: penerbit buku kedokteran ECG





































GAMELAN
    



WAYANG

          

BATIK
                                                               

               
                                                                
                                                                                                                    

SIRAMAN




SIRAMAN 7 BULANAN






PEMOTONGAN TALI PUSAT


PLASENTA


                                                             



Tidak ada komentar:

Posting Komentar